Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Lihat Rocky Berdasi Masuk Kekuasaan, Pengamat: Makanya Jangan Gampang Baper

        Lihat Rocky Berdasi Masuk Kekuasaan, Pengamat: Makanya Jangan Gampang Baper Kredit Foto: Christian Andy
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Keputusan mengejutkan pengamat politik Rocky Gerung yang menerima posisi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di kabinet Presiden Prabowo Subianto memicu gelombang perundungan (bullying) dan kritik tajam dari publik.

        Merespons fenomena ini, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, mengingatkan masyarakat agar tidak merespons manuver politik tersebut secara berlebihan.

        Menurut Adi, langkah Rocky masuk ke lingkaran istana, seberapapun mengejutkannya bagi publik, itu sepenuhnya merupakan hak politik yang didasari oleh kalkulasi rasional sang akademisi.

        "Saya kira nggak perlu mengkritik Rocky Gerung secara berlebihan, hanya karena bergabung dengan kekuasaan sebagai anggota Wantimpres. Rocky itu juga manusia, Rocky punya hak politik dan punya alasan dan kalkulasi secara matang," tutur Adi Prayitno.

        Adi memaklumi jika publik merasa dikhianati atau heran. Selama bertahun-tahun, Rocky terlanjur membangun dan melekatkan citra "anti-kekuasaan" pada dirinya.

        Kritik-kritiknya yang tajam dan kerap viral sering kali melahirkan persepsi bahwa ia menganggap kekuasaan sebagai entitas yang buruk, serta menempatkan narasi oposisinya sebagai kebenaran tunggal.

        Kini, perubahan haluan 180 derajat itu menciptakan situasi pragmatis yang ironis. Adi menyoroti betapa canggungnya dinamika internal Wantimpres kelak, mengingat Rocky harus duduk satu meja dengan figur-figur yang selama ini menjadi sasaran tembak utamanya.

        "Saya membayangkan bagaimana suasana kebatinan Rocky kalau satu kantor dengan Qodari dan Anwar Usman, dua sosok yang sering dikritik dan diserang agresif oleh Rocky. Termasuk sikap politiknya ke depan, karena ia dianggap paling sering keras menyerang Wapres Gibran," ungkap Adi.

        Lebih jauh, Adi memandang bergabungnya Rocky ke dalam kabinet pemerintahan sebagai edukasi langsung bagi masyarakat tentang sifat politik di Indonesia yang sangat cair.

        Figur-figur elit yang di ruang publik tampak "tawuran" opini dan saling serang, terbukti bisa dengan mudah berbaur dalam satu ritme kerja pemerintahan.

        Ia memberikan pesan menohok kepada masyarakat akar rumput agar menjadikan momen ini sebagai pelajaran untuk tidak terlampau fanatik, emosional, atau bersikap kejam dalam membela maupun menyerang tokoh politik.

        "Di negara kita jangan terlampau ngotot karena urusan politik, jangan sadis-sadis juga, kalau pada akhirnya kekuasaan itu juga mengubah iman politik kita," pungkas Adi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: