Jajaki Bisnis Healthcare Berbasis AI, RSCH Bidik Sumber Pendapatan Baru dan Potensi Gandeng Perusahaan Asing
Kredit Foto: Ist
PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) mulai menjajaki pengembangan bisnis healthcare berbasis artificial intelligence (AI) sebagai upaya membuka sumber pertumbuhan pendapatan baru di luar bisnis rumah sakit konvensional.
Direktur Utama RSCH Junianto mengatakan perkembangan AI membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengembangkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Saat ini, perseroan masih mengevaluasi sejumlah use case yang dinilai sesuai dengan bisnis dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru.
“Kami melihat AI memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di sektor healthcare. Saat ini kami masih dalam tahap penjajakan untuk melihat use case yang paling sesuai dengan bisnis perseroan dan memiliki potensi untuk menjadi sumber pertumbuhan pendapatan baru ke depan,” ujar Junianto.
Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit, tetapi juga berpotensi menghasilkan layanan atau solusi healthcare berbasis teknologi. Ruang pengembangannya mencakup analisis data pasien, efisiensi proses administrasi, dukungan layanan medis, hingga optimalisasi operasional rumah sakit.
Untuk mempercepat pengembangan, RSCH juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi asing. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menggabungkan pengalaman perseroan di sektor kesehatan dengan kapabilitas teknologi dari mitra global.
Namun, rencana tersebut masih berada dalam tahap penjajakan. RSCH masih mengevaluasi model bisnis, kebutuhan teknologi, serta peluang monetisasi sebelum masuk ke tahap implementasi yang lebih luas.
Peluang pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan pertumbuhan pasar AI healthcare secara global. Berdasarkan riset Fortune Business Insights, nilai pasar AI di sektor kesehatan global diperkirakan mencapai US$56,01 miliar pada 2026 dan berpotensi mencapai US$1.033,27 miliar pada 2034, dengan CAGR 43,96 persen.
Dari sisi kinerja, pendapatan RSCH pada semester I-2026 tercatat tumbuh 18,1 persen secara tahunan menjadi Rp32,7 miliar. Perseroan sebelumnya juga menyatakan akan mengandalkan pasien BPJS Kesehatan sebagai salah satu penopang volume kunjungan dan pendapatan rumah sakit.
Pengembangan bisnis AI berpotensi menjadi bagian dari strategi diversifikasi RSCH sehingga pertumbuhan perseroan tidak hanya bergantung pada bisnis rumah sakit konvensional.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai penjajakan healthcare berbasis AI menjadi langkah positif karena membuka peluang pertumbuhan baru dengan model bisnis yang lebih scalable.
Baca Juga: Aturan AI Bakal Beda Tiap Sektor, Pemerintah Siapkan Panduan Khusus
“Inisiatif AI di sektor healthcare ini cukup menarik karena dapat menjadi growth driver baru bagi RSCH. Jika perseroan mampu menemukan use case yang tepat dan mengembangkan model monetisasi yang jelas, kontribusinya terhadap pertumbuhan bisnis ke depan berpotensi cukup signifikan,” ujar Rudy.
Pada perdagangan 6 Oktober 2026, saham RSCH ditutup di level Rp575 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,52 triliun. Dengan skala bisnis yang masih relatif kecil, keberhasilan menciptakan sumber pendapatan baru berpotensi memberikan dampak terhadap profil pertumbuhan perseroan.
Karena itu, rencana pengembangan AI healthcare dan peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global menjadi salah satu katalis yang dapat dicermati seiring upaya RSCH memperluas sumber pertumbuhan di luar ekspansi kapasitas rumah sakit.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: