Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bidik Kemandirian Industri Medis, Startup Indonesia-Malaysia Kembangkan Prostetik Berbasis AI

        Bidik Kemandirian Industri Medis, Startup Indonesia-Malaysia Kembangkan Prostetik Berbasis AI Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing) membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri perangkat prostetik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

        Kolaborasi startup Indonesia, KARLA Bionics, dengan perusahaan teknologi Malaysia, Empowered Solutions, diarahkan untuk mengembangkan perangkat prostetik yang lebih adaptif, meningkatkan kapasitas manufaktur lokal, dan memperluas akses pasar melalui inovasi digital.

        Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah perangkat lunak berbasis AI generatif untuk membantu merancang soket prostetik, yakni komponen yang menghubungkan anggota tubuh pengguna dengan alat bantu seperti kaki palsu.

        Teknologi ini memanfaatkan data pengukuran atau pemindaian tiga dimensi untuk menghasilkan desain yang menyesuaikan anatomi pengguna.

        Co-Founder sekaligus CEO KARLA Bionics, Arief Indra Muharam, mengatakan pengembangan prostetik di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga kesenjangan akses, keterbatasan tenaga profesional, dan pembiayaan.

        Menurut Arief, sebagian besar pengguna yang membutuhkan prostetik berasal dari kelompok pekerja kerah biru yang mengalami kecelakaan kerja dan tidak dapat kembali menjalankan pekerjaan seperti sebelumnya.

        Berdasarkan data internal pengembang, sekitar 90% pengguna yang mereka tangani masih membutuhkan dukungan pendanaan untuk memperoleh produk prostetik. Sementara itu, sekitar 10% lainnya mampu membelinya secara mandiri.

        "Situasi ini memperlihatkan bahwa inovasi teknologi medis perlu diikuti dengan mekanisme pembiayaan dan distribusi yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, produk yang telah dikembangkan berpotensi tidak sampai kepada kelompok yang paling membutuhkan," ujar Arief, Jumat (10/10/2026)

        Pemanfaatan AI berpotensi membantu mempercepat proses perancangan prostetik sekaligus meningkatkan konsistensi desain. Teknologi ini juga dapat mendukung pengembangan proses produksi yang lebih terstruktur, terutama untuk komponen yang selama ini membutuhkan keterampilan teknis khusus.

        Arief menjelaskan, salah satu tantangan dalam pembuatan prostetik adalah proses perancangan soket yang harus disesuaikan dengan kondisi fisik setiap pengguna. Perbedaan anatomi dan kondisi amputasi membuat kebutuhan produk tidak dapat disamaratakan.

        Soket yang tidak sesuai dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengurangi efektivitas penggunaan alat bantu. Karena itu, pengukuran, penyesuaian desain, dan pemasangan tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan prostetik.

        Melalui kolaborasi dengan Empowered Solutions, pengembang berupaya memanfaatkan AI untuk menerjemahkan data anatomi menjadi rancangan yang dapat diproses melalui manufaktur digital.

        Co-Founder sekaligus CEO Empowered Solutions, Muhammad Hafizuddin, mengatakan teknologi AI diharapkan membantu meningkatkan efisiensi proses pengembangan serta mendukung standardisasi produksi.

        Meski demikian, penerapan AI tetap perlu disertai validasi klinis, pengawasan tenaga profesional, dan pengujian untuk memastikan produk memenuhi persyaratan keselamatan serta kebutuhan pengguna.

        Pengembang juga melihat peluang menerapkan standardisasi pada komponen tertentu. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap proses produksi yang sepenuhnya dibuat berdasarkan pesanan individual, tanpa mengabaikan penyesuaian yang diperlukan setiap pengguna.

        Jika diterapkan secara tepat, standardisasi berpotensi memperluas kapasitas produksi dan membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku usaha untuk masuk ke industri prostetik.

        Selain AI, teknologi 3D printing menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan industri prostetik. Teknologi ini memungkinkan proses produksi dilakukan lebih dekat dengan lokasi pengguna, sehingga membuka peluang untuk memperpendek rantai distribusi dan mengurangi ketergantungan terhadap pengiriman produk dari luar negeri.

        Hafizuddin menjelaskan, pemilihan mitra di Indonesia mempertimbangkan kesamaan visi, pengalaman di bidang prostetik, serta peluang untuk mengembangkan teknologi secara bersama-sama.

        "Melalui kolaborasi ini, kemampuan desain, perangkat lunak, dan manufaktur digital diharapkan dapat dikembangkan menjadi satu rantai produksi yang lebih terintegrasi,"ujarnya

        Penguatan manufaktur lokal juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri. Peluang tersebut tidak hanya mencakup produksi perangkat prostetik, tetapi juga pengembangan perangkat lunak, pengolahan data desain, penyediaan material, hingga peningkatan kompetensi tenaga kerja.

        Baca Juga: Industri Alat Medis Tumbuh 12%, Loctite Bidik Kebutuhan Manufaktur Indonesia

        Ketergantungan terhadap produk impor menjadi salah satu persoalan yang ingin diatasi melalui pengembangan kapasitas produksi domestik. Gangguan rantai pasok lintas negara dapat memengaruhi ketersediaan produk maupun keberlanjutan pengembangan teknologi. Karena itu, kemampuan memproduksi prostetik secara lokal dinilai penting untuk membangun ekosistem perangkat medis yang lebih mandiri.

        Kolaborasi Indonesia-Malaysia tersebut juga diarahkan untuk memperkuat validasi klinis, standardisasi proses produksi, dan pemahaman terhadap persyaratan material biokompatibel.

        Langkah ini menjadi penting karena produk yang dapat dibuat secara teknis belum tentu langsung memenuhi seluruh persyaratan untuk digunakan dalam layanan kesehatan.

        Sementara itu, di tengah peluang pertumbuhan industri, keterjangkauan produk masih menjadi tantangan utama. Inovasi teknologi tidak otomatis memperluas pasar apabila pengguna tidak memiliki kemampuan finansial untuk memperoleh perangkat yang dibutuhkan.

        Arief menilai pengembangan industri prostetik perlu didukung mekanisme pembiayaan, distribusi, dan layanan yang berkelanjutan. Tantangan ini terutama dirasakan oleh pengguna yang kehilangan kemampuan bekerja setelah mengalami kecelakaan.

        Selain pembiayaan, keterbatasan data kebutuhan pengguna juga memengaruhi pengembangan produk. Data administratif yang tersedia belum sepenuhnya menggambarkan kondisi dan kebutuhan spesifik masyarakat di lapangan.

        Untuk menjangkau calon pengguna, pengembang perlu memanfaatkan komunitas, kelompok masyarakat, dan jaringan akar rumput.

        "Pendekatan ini diperlukan agar desain teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kondisi pengguna di Indonesia,"katanya.

        Tantangan lainnya adalah ketersediaan layanan rehabilitasi. Berdasarkan catatan internal pengembang, dari 76 orang yang telah didata membutuhkan tangan prostetik, sebanyak 56 orang telah memperoleh akses terhadap produk tersebut.

        Namun, dari kelompok yang diwawancarai, hanya dua orang yang disebut memperoleh rehabilitasi secara lengkap, mencakup aspek medis dan sosial. Angka tersebut merupakan data internal pengembang dan tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh pengguna prostetik di Indonesia.

        Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan alat bantu perlu disertai pendampingan, pelatihan penggunaan, dan penyesuaian fisik agar produk dapat dimanfaatkan secara optimal.

        Karena itu, pengembangan industri prostetik membutuhkan keterlibatan fasilitas kesehatan, tenaga medis, praktisi prostetik, serta penyedia teknologi untuk membangun layanan yang terintegrasi.

        Kolaborasi KARLA Bionics dan Empowered Solutions juga membuka peluang pengembangan pusat inovasi prostetik di kawasan KPP. Fasilitas tersebut direncanakan menjadi ruang pengembangan teknologi, pembelajaran bagi praktisi, serta transfer pengetahuan dan teknologi antara mitra.

        inovasi diharapkan dapat mempertemukan pengembangan perangkat keras, perangkat lunak, desain prostetik, dan manufaktur digital dalam satu ekosistem. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat diarahkan menuju produksi dan distribusi yang lebih terstruktur.

        Dalam jangka panjang, pengembang menargetkan perluasan pasar, termasuk peluang ekspor melalui kolaborasi dengan Malaysia. Pengembangan produk untuk pasar internasional direncanakan dalam rentang tujuh tahun.

        Baca Juga: Pakai ChatGPT hingga Grok di Kantor? ITSEC Ingatkan Risiko Data Bocor

        Realisasi target tersebut akan bergantung pada kemampuan memenuhi standar klinis, menjaga konsistensi kualitas produksi, memperkuat kapasitas manufaktur, dan membangun jaringan distribusi yang berkelanjutan.

        Bagi industri teknologi kesehatan Indonesia, kolaborasi ini menunjukkan bahwa peluang bisnis prostetik tidak hanya terletak pada penjualan alat bantu, tetapi juga pada pengembangan teknologi desain, manufaktur digital, layanan rehabilitasi, dan rantai pasok lokal.

        Integrasi AI, 3D printing, dan penguatan kemampuan produksi domestik berpotensi menjadi fondasi bagi industri prostetik yang lebih kompetitif. Namun, keberhasilan komersialisasinya tetap membutuhkan keseimbangan antara inovasi, keterjangkauan harga, pemenuhan standar keselamatan, dan akses pengguna terhadap layanan pendukung.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: