Akselerasi Bisnis Bersama Pelatihan Sandiaga Uno, Nasi Bejeg Malangan Buka Peluang Kerja Kurir Difabel
Kredit Foto: Istimewa
Mengembangkan usaha sekaligus membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas menjadi bagian dari perjalanan Riza, pemilik Nasi Bejeg Malangan di Jalan Simpang Gajayana, Kota Malang.
Usaha kuliner yang mulai beroperasi pada 18 Oktober 2025 itu menggandeng Difajek, kelompok layanan ojek daring dan kurir yang melibatkan penyandang disabilitas. Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi kurir difabel untuk memperoleh penghasilan melalui pengiriman pesanan makanan dan barang.
Riza mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghilangkan kesempatan seseorang untuk bekerja dan mandiri secara ekonomi.
“Saya berharap masyarakat semakin memahami bahwa keterbatasan fisik tidak menghilangkan kemampuan seseorang untuk bekerja dan berusaha,” ujar Riza.
Menurut Riza, keputusan menggandeng Difajek berangkat dari pengamatannya terhadap terbatasnya wadah kerja bagi penyandang disabilitas di Malang. Saat itu, ia melihat belum ada platform ojek daring maupun ekspedisi yang secara khusus menjadi wadah bagi kelompok tersebut.
Ia kemudian ikut mendampingi pembentukan Difajek agar para kurir difabel memiliki kesempatan bekerja. Melalui skema yang dijalankan, biaya pengiriman dibayarkan langsung kepada pengemudi atau kurir tanpa potongan administrasi platform.
Saat ini, tiga kurir difabel telah menjadi mitra Nasi Bejeg Malangan. Mereka bertugas mengantarkan pesanan makanan untuk dibawa pulang atau take away, serta pengiriman barang.
Di balik upaya mengembangkan bisnis dan dampak sosialnya, Nasi Bejeg Malangan menghadapi tantangan dalam pengelolaan usaha.
Setelah mengikuti program Rocket Acceleration 2026, Riza mengungkapkan omzet bisnisnya turun dari sekitar Rp49 juta menjadi Rp38 juta.
Ia mengaitkan penurunan tersebut dengan persoalan manajemen internal yang berdampak pada pemasaran, pencatatan keuangan, dan operasional gerai.
Pencatatan keuangan yang belum dilakukan secara waktu nyata atau real time menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi. Persoalan tersebut muncul di tengah kondisi pasar yang lesu dan persaingan usaha kuliner di Malang.
Pengalaman itu mendorong Riza mengevaluasi cara mengelola bisnis, termasuk dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, pendampingan melalui Rocket Acceleration 2026 memberinya pemahaman bahwa keputusan usaha perlu didasarkan pada data dan penilaian yang lebih objektif, bukan semata-mata perkiraan.
Ia mengatakan, pembelajaran tersebut membantunya melihat persoalan bisnis secara lebih jelas dan menentukan langkah perbaikan.
Pada Oktober 2026, Riza merencanakan perombakan tim dan pembenahan standar operasional prosedur (SOP). Ia juga menargetkan omzet kembali meningkat hingga melampaui Rp50 juta.
Founder Sandination Academy sekaligus Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menekankan pentingnya akses, pengalaman, dan pendampingan bagi generasi muda yang ingin mengembangkan usaha.
Melalui Rocket Acceleration, pelaku usaha muda didorong untuk memperkuat fondasi bisnis, mengevaluasi persoalan, dan mengembangkan gagasan menjadi usaha yang berkelanjutan.
“Kami akan terus memberikan akses, pengalaman, keberanian, dan kepercayaan kepada generasi muda untuk membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di level global,” ujar Sandiaga.
Program tersebut diikuti puluhan wirausaha muda, termasuk Riza. Pendampingan yang diberikan menjadi salah satu bekal bagi peserta untuk mengevaluasi usaha, memperbaiki pengambilan keputusan, dan menyusun strategi menghadapi tantangan bisnis.
Baca Juga: Menperin Sarmuji Sentil Dunia Industri: Perusahaan Besar Bisa Kalah dari yang Gesit
Bagi Riza, perkembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan peningkatan omzet. Kemampuan mengenali masalah dan memperbaiki pengelolaan bisnis juga menjadi bagian penting dari proses membangun usaha.
Dampak sosial yang dihasilkan turut menjadi perhatian, terutama melalui kesempatan kerja yang diberikan kepada kelompok rentan.
Perjalanan Nasi Bejeg Malangan menunjukkan dua tantangan yang berjalan beriringan, yakni menjaga keberlangsungan bisnis dan memperluas kesempatan ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: