Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menyalahkan Alam atas Karhutla Dinilai Berbahaya, Kritik Pedas untuk Pemerintah Mengemuka

        Menyalahkan Alam atas Karhutla Dinilai Berbahaya, Kritik Pedas untuk Pemerintah Mengemuka Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jurnalis sekaligus pegiat media sosial Ahmad Arif mengkritik pemerintah yang dinilai seolah menyalahkan faktor alam atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

        Arif menyoroti pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, yang menyebut karhutla hingga menyebabkan kabut asap mengepung Singapura dan Malaysia merupakan fenomena alam, bukan akibat kesalahan manusia.

        Menurutnya, pernyataan tersebut menunjukkan sikap pemerintah yang tidak kompeten. Ia menilai karhutla bukan semata-mata fenomena alam, melainkan juga melibatkan faktor kelalaian manusia dalam pengelolaannya.

        "Menyalahkan alam atas kebakaran hutan adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab yang serius, menandakan pemerintahan yang sangat tidak kompeten," tulisnya di akun X priadinya, dikutip Senin (12/10).

        "Kebakaran hutan dan lahan bukan fenomena alam semata, apalagi ketika api berulang kali melalap wilayah yang sama dan asapnya menyeberangi batas negara. Kemarau memang mengeringkan lahan, tetapi siapa yang membiarkan gambut rentan terbakar, pembukaan lahan tak terkendali, dan pencegahan gagal dilakukan? Bahkan anggaran untuk pemadaman pun semenjana," imbuhnya.

        Menurut Ahmad Arif, pemerintahan yang baik tidak seharusnya berlindung di balik faktor cuaca untuk menghindari tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa tugas negara adalah mengantisipasi risiko, mengawasi konsesi, mencegah pembakaran lahan, serta memadamkan api sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

        "Karena bencana hanya akan terjadi jika ada kesalahan tata kelola," tandasnya.

        Sebelumnya, Syahganda mengklaim bahwa karhutla yang terjadi merupakan dampak fenomena alam akibat siklus cuaca ekstrem dan berada di luar kendali kesalahan manusia.

        Ia juga meminta Malaysia dan Singapura memahami serta memaklumi kondisi bencana yang sedang dihadapi Indonesia.

        Baca Juga: 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Citilink Paling Apes

        “Jadi, kita juga minta kepada semua tetangga kita untuk mengerti ini adalah di luar beyond human error, ini betul-betul alam,” kata Syahganda, di kantor Lemhannas, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

        Sebagai bentuk pembelaan, Syahganda juga berseloroh bahwa ketika tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan, Indonesia secara rutin menyuplai oksigen bersih secara gratis kepada Malaysia dan Singapura melalui hutan-hutannya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: