Orang Tua Wajib Tahu! Telur Mentah Bisa Bikin Balita Kena Keracunan
Kredit Foto: Antara/FB Anggoro
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak balita karena berisiko memicu infeksi bakteri Salmonella. Anak balita yang mengonsumsi telur dalam kondisi tersebut memiliki risiko mengalami gejala salmonellosis hingga empat kali lipat dibandingkan orang dewasa.
Infeksi tersebut dapat menimbulkan diare berdarah, demam, muntah, hingga dehidrasi. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa apabila kekurangan cairan tidak segera ditangani.
dr. Cut Nurul Hafifah, menjelaskan bahwa telur merupakan sumber protein hewani yang terjangkau, mudah diperoleh, serta mengandung asam amino esensial lengkap.
"Satu butir telur rebus mengandung sekitar 77 kilokalori, 6 gram protein, dan 5,3 gram lemak total. Namun, manfaat nutrisi tersebut tidak menghilangkan risiko infeksi apabila telur dikonsumsi mentah atau tidak dimasak hingga matang," kata Cut, mengutip laman resmi IDAI, Senin (12/10/2026).
Praktik memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi masih ditemukan di masyarakat. Sebagian orang tua melakukannya dengan anggapan bahwa cara tersebut dapat membuat anak lebih kuat. Padahal, telur utuh dapat mengandung bakteri Salmonella yang berisiko menyebabkan keracunan makanan.
"Bakteri tersebut juga dapat masuk ke dalam telur melalui cangkang yang retak. Karena itu, pemilihan telur dan cara pengolahannya menjadi bagian penting untuk mencegah infeksi, terutama pada kelompok rentan seperti anak balita, lansia, dan ibu hamil," tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa gejala salmonellosis dapat muncul dalam rentang 12–72 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella.
Gejala yang dapat timbul meliputi diare berdarah, demam, dan muntah. Infeksi juga dapat menyebabkan dehidrasi yang berbahaya apabila tidak segera ditangani.
Dalam banyak kasus, gejala membaik dalam waktu 4–7 hari tanpa pemberian antibiotik. Meski demikian, risiko dehidrasi tetap perlu diwaspadai, khususnya pada anak-anak.
Risiko infeksi tidak hanya berasal dari telur mentah yang dikonsumsi secara langsung. Makanan yang menggunakan telur setengah matang sebagai bahan pembuatnya juga berpotensi menjadi sumber kontaminasi.
Beberapa contoh makanan tersebut adalah homemade mayonnaise, tiramisu, dan mousse. Sementara itu, mayones buatan pabrik umumnya menggunakan telur yang telah dipasteurisasi sehingga lebih aman dikonsumsi.
Telur Harus Dimasak hingga Putih dan Kuningnya Mengeras
Untuk mengurangi risiko infeksi, IDAI menyarankan orang tua memastikan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya mengeras. Makanan yang mengandung telur juga perlu dimasak hingga mencapai suhu minimal 71 derajat Celsius.
Pengolahan hingga matang tidak menghilangkan kandungan nutrisi telur. Sebaliknya, telur yang telah dimasak matang disebut lebih mudah dicerna oleh saluran pencernaan anak.
Selain memastikan kematangan, kebersihan dan penyimpanan telur juga perlu diperhatikan. IDAI menyarankan masyarakat menghindari telur yang kotor atau retak serta menyimpan telur di lemari pendingin pada suhu 0–4 derajat Celsius.
Orang tua juga perlu mencuci tangan dan membersihkan peralatan yang bersentuhan dengan telur mentah untuk mengurangi risiko kontaminasi silang.
Telur yang sudah matang sebaiknya segera dikonsumsi dan tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam. Langkah ini diperlukan untuk menghindari kontaminasi kuman setelah proses pemasakan.
Dengan demikian, telur tetap dapat menjadi sumber protein bagi anak selama diolah dengan benar. IDAI menekankan pentingnya memastikan telur matang sepenuhnya, alih-alih memberikan telur mentah atau setengah matang dengan anggapan dapat meningkatkan kekuatan anak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: