Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Rontok 2,59% ke 5.936, Ini Penyebabnya

        IHSG Rontok 2,59% ke 5.936, Ini Penyebabnya Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (12/10/2026). IHSG ditutup anjlok 2,59% ke level 5.936,14, seiring tekanan pada saham-saham berbasis komoditas, aksi jual investor asing, serta ketidakpastian kondisi ekonomi global.

        Co-Founder Pasar Dana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee menilai, salah satu faktor yang menekan pasar saham domestik adalah penurunan harga minyak dunia dan komoditas energi lainnya. Kondisi ini memicu aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham sektor energi dan material dasar.

        Tekanan tersebut menjadi perhatian karena saham berbasis komoditas memiliki porsi besar dalam pergerakan IHSG. 

        "Ketika harga komoditas melemah, saham-saham emiten energi, termasuk yang bergerak di sektor batu bara dan minyak, ikut tertekan dan menyeret indeks lebih dalam ke zona merah," kata dia kepada Warta Ekonomi, Senin (12/10/2026).

        Selain itu, aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) turut membebani pergerakan IHSG. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap, termasuk sektor perbankan dan pertambangan, dapat memberikan dampak signifikan terhadap indeks. Saham seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi contoh saham yang mendapat tekanan jual asing.

        Dari sisi makroekonomi, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar karena menekan nilai tukar rupiah. 

        Di tengah ketidakpastian arah suku bunga global serta penantian data inflasi AS dan China, investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

        Kondisi tersebut turut membuka peluang terjadinya pengalihan dana ke aset yang dinilai lebih aman (safe haven) maupun aksi lindung nilai (hedging) oleh investor asing. Kombinasi tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global pun dapat memperburuk sentimen di pasar saham domestik.

        Baca Juga: IHSG Ditutup Terpukul ke Zona Merah, Turun 2,59% ke Level 5.936,14

        Baca Juga: IHSG Babak Belur, Saham Perbankan dan Konglomerasi Ikut Ambruk

        Pelemahan IHSG juga memperlihatkan perbedaan karakter pasar saham Indonesia dengan sejumlah bursa Asia lainnya. 

        "Bursa yang memiliki porsi besar saham manufaktur, konsumen, dan teknologi berpotensi mendapat keuntungan dari turunnya harga minyak karena biaya operasional perusahaan bisa lebih rendah," jelas dia.

        Sebaliknya, besarnya porsi saham komoditas di IHSG membuat penurunan harga energi berpotensi menjadi beban bagi indeks. 

        "Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting serta perkembangan situasi geopolitik global," tutup Hans Kwee.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: