Kolaborasi Pentahelix Didorong, OJK Incar Penguatan Keuangan Jatim
Kredit Foto: Azka Elfriza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong kolaborasi lintas lembaga untuk mempercepat pendalaman sektor keuangan di Jawa Timur. Provinsi tersebut dinilai berpotensi menjadi proyek percontohan (pilot project) pengembangan ekonomi daerah melalui sinergi regulator, pemerintah, industri jasa keuangan, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan, pengembangan sektor keuangan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan regulator. Kolaborasi diperlukan untuk memetakan potensi ekonomi, mengidentifikasi tantangan pembiayaan, serta merumuskan strategi sesuai karakteristik masing-masing daerah.
“Jadi ini butuh kolaborasi, dan collaboration-nya harus pentahelix. Harus BI, OJK, LPS, dan Kemenkeu, harus dengan line ministry, harus bersama dengan Forkopimda. Mari kita bangun Indonesia bareng-bareng, ini tanggung jawab kita bersama,” ujar Adi dalam acara Digital Financial Literacy yang diselenggarakan OJK Institute, Senin (12/10/2026).
Menurut Adi, pendekatan pentahelix memungkinkan pengembangan sektor keuangan daerah melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Selain otoritas keuangan, sinergi juga dibutuhkan dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, aparat terkait, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi peluang usaha dan hambatan yang menghalangi aktivitas ekonomi produktif. Pemetaan ini menjadi bagian dari upaya memperdalam sektor keuangan agar lebih sesuai dengan kebutuhan ekonomi daerah.
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang dinilai berpotensi menerapkan pendekatan tersebut. OJK mendorong keterlibatan perguruan tinggi, termasuk Universitas Airlangga, untuk mendukung penyediaan data dan identifikasi potensi ekonomi daerah.
Ketersediaan data dinilai penting untuk memahami karakteristik ekonomi lokal, termasuk peluang usaha yang dapat dikembangkan dan tantangan yang perlu diatasi. Hasil pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan sektor keuangan yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Adi menekankan pentingnya menghubungkan pemetaan potensi ekonomi dengan agenda pendalaman sektor keuangan (financial deepening).
“Kapasitas kita untuk melihat potensi ada di sini, challenge yang ada di sini, dan bagaimana kaitannya muara ini kepada deepening,” kata Adi.
Baca Juga: Teknologi Makin Canggih, OJK Minta Masyarakat Waspadai Risiko Judol
Baca Juga: Selangkah Menuju IPO, Direksi PAM JAYA Sudah Bertemu OJK
Baca Juga: OJK Buka Suara soal IPO Bank Jakarta dan PAM Jaya, Baru Satu yang Konsultasi
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan sektor keuangan di Jawa Timur diharapkan tidak berhenti pada koordinasi antarlembaga, tetapi juga mampu mengidentifikasi kebutuhan pembiayaan dan peluang pengembangan usaha di daerah.
Meski demikian, OJK belum merinci target, jadwal pelaksanaan, maupun indikator keberhasilan Jawa Timur sebagai proyek percontohan. Fokus yang disampaikan saat ini adalah membangun kolaborasi lintas lembaga dan memperkuat pemetaan potensi ekonomi sebagai dasar pendalaman sektor keuangan daerah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: