Sosiolog NTU Singapura Prediksi Kongsi Politik Jokowi-Prabowo Segera jadi Konflik Terbuka
Kredit Foto: BPMI
Sosiolog sekaligus Associate Professor di School of Social Sciences, Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, Ph.D., menilai hubungan politik Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto telah mengalami keretakan. Ia bahkan memprediksi persaingan kedua tokoh tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka.
Pandangan itu disampaikan Sulfikar saat menjadi narasumber dalam siniar di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang tayang pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Dalam perbincangan tersebut, Abraham Samad menyoroti sejumlah peristiwa politik yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Di antaranya, perombakan kabinet atau reshuffle, pergantian pucuk pimpinan Polri, sidang gugatan terkait keabsahan ijazah Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK), serta safari politik Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Gestur Prabowo dan Jokowi dalam peringatan HUT TNI pada 5 Oktober lalu juga menjadi sorotan. Saat itu, Prabowo tertangkap kamera seolah melewati Jokowi tanpa bersalaman.
Menanggapi rangkaian peristiwa tersebut, Sulfikar menilai berbagai kejadian itu merupakan gejala dari kontestasi kekuasaan di kalangan elite politik.
"Satu sisi ada Joko Widodo, sisi lain adalah Prabowo Subianto. Bukan sudah hampir retak, memang sudah retak. Dan keretakan antara dua tokoh ini juga sesuatu yang tidak bisa dihindari," tegas Sulfikar.
Menurut dia, persoalan tersebut berakar pada persaingan untuk menguasai dan mengendalikan kekuasaan politik. Ketegangan berpotensi muncul ketika dua tokoh sama-sama ingin menjadi pusat pengaruh dalam sistem politik yang sama.
Secara formal, Prabowo merupakan pemegang kekuasaan tertinggi sebagai presiden. Namun, Sulfikar menilai pengaruh politik Jokowi dan sumber daya yang masih dimilikinya turut memengaruhi dinamika kekuasaan pemerintahan.
Ia melihat tarik-menarik pengaruh tersebut tercermin dalam sejumlah kebijakan politik, termasuk reshuffle kabinet. Sulfikar menilai perombakan kabinet itu dapat menjadi instrumen Prabowo dalam merespons tekanan dari Jokowi sebagai kompetitornya.
Sulfikar juga memperkirakan persaingan yang selama ini berlangsung di balik layar dapat meningkat menjadi pertentangan secara terbuka.
"Akan ada suatu masa di mana Jokowi akan menyerang Prabowo secara terbuka," prediksinya.
Baca Juga: Denny Indrayana Tawarkan 'Solusi Elegan' untuk Wapres Gibran
Di sisi lain, Sulfikar menilai persaingan kedua tokoh tersebut dapat merugikan masyarakat jika terus mendominasi perhatian publik dan wacana politik nasional. Menurut dia, kondisi itu membuat tokoh-tokoh lain yang memiliki potensi, dedikasi, dan kompetensi kurang mendapat ruang untuk tampil.
Karena itu, ia mendorong munculnya gagasan politik di luar pertentangan Jokowi dan Prabowo. Sulfikar juga mengingatkan kalangan intelektual agar tetap kritis dalam menyikapi dinamika kekuasaan.
"Dua orang ini itu hanya menghasilkan masalah buat kita, dan kita harus mencari solusi di luar dari pertentangan dua orang ini. Intelektual harus kritis," pungkas Sulfikar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: