Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Anies Baswedan dan Mahfud MD Disarankan Jurnalis Senior untuk Tidak Gabung di Kabinet Merah Putih

        Anies Baswedan dan Mahfud MD Disarankan Jurnalis Senior untuk Tidak Gabung di Kabinet Merah Putih Kredit Foto: Andi Hidayat
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Jurnalis senior Syahril Teha Noer secara terbuka menyarankan mantan calon presiden dan calon wakil presiden, Anies Baswedan serta Mahfud MD, untuk tidak bergabung ke dalam Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

        Ia menilai peran sebagai oposisi di luar pemerintahan jauh lebih dibutuhkan oleh negara saat ini.

        Dalam pandangannya, langkah politik akomodatif yang merangkul mantan lawan politik tidak menjamin terciptanya tata kelola pemerintahan yang lebih baik.

        Syahril mengambil contoh dari masa jabatan kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat merangkul Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. Menurutnya, alih-alih membaik, periode tersebut justru diwarnai dengan berbagai polemik.

        Ia menyoroti menguatnya praktik oligarki, lemahnya penegakan hukum, wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, hingga pembelahan di masyarakat akibat polarisasi politik.

        "Penyelesaian masalah negeri ini terutama bergantung pada mutu kepemimpinan presiden, bukan menteri. Menteri baik seperti Anies atau Tom Lembong di masa Jokowi, serta Purbaya dan Agus Gumiwang di masa Pak Bowo, bakal tak berdaya juga kalau presiden beranggapan sebaliknya," tulis Syahril.

        Alasan kedua yang ditekankan Syahril adalah lemahnya fungsi pengawasan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan 80 persen kursi parlemen dikuasai oleh partai koalisi pendukung pemerintah, fungsi check and balances di Senayan dinilai lumpuh.

        Oleh karena itu, kehadiran tokoh-tokoh kritis seperti Anies, Mahfud, Denny Indrayana, Feri Amsari, serta para akademisi dan jurnalis di barisan oposisi menjadi sangat vital.

        Kehadiran mereka dibutuhkan untuk mencegah pemerintah dari sifat terlalu percaya diri atau "gede rasa" atas kebijakan-kebijakannya.

        Syahril juga melontarkan kecurigaan bahwa tawaran masuk kabinet bisa saja menjadi sebuah jebakan politik.

        Ia mengingatkan bahwa tokoh yang masuk ke lingkar kekuasaan berpotensi tercerabut dari akar rumput pendukungnya dan berujung pada hilangnya kredibilitas, seperti yang ia sebut menimpa tokoh-tokoh pengkritik yang akhirnya merapat ke pemerintah.

        Selain itu, Syahril menyoroti rekam jejak reshuffle kabinet yang dinilai sangat intens. "Tak ada jaminan bakal aman dari kemungkinan reshuffle. Belum dua tahun rombongan menteri dan para wakilnya sudah tujuh kali bongkar pasang," ungkapnya.

        Di akhir pernyataannya, Syahril menegaskan bahwa dengan tetap berada di luar pemerintahan, tokoh-tokoh oposisi justru secara tidak langsung mendorong Prabowo dan timnya untuk bekerja lebih keras dan berkinerja baik demi meraih simpati rakyat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: