Yunarto Wijaya Ungkap Alasan Dulu Dukung Jokowi: Bukan karena Jabatan, tetapi.....
Kredit Foto: Ist
Dukungan Yunarto Wijaya kepada Joko Widodo pada awal karier politiknya bukan didasari keinginan mendapatkan jabatan. Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia itu mengaku tertarik pada nilai dan gaya kepemimpinan yang ditampilkan Jokowi, tetapi kemudian melihat perubahan yang membuatnya mengambil jarak.
Yunarto menceritakan pandangannya tersebut dalam podcast Akbar Faizal Uncensored. Ia menjelaskan bahwa dirinya belum mengenal Jokowi secara pribadi ketika mantan Wali Kota Solo itu mulai maju dalam pemilihan gubernur Jakarta.
Meski belum mengenal sosoknya secara langsung, Yunarto mengaku memahami nilai yang saat itu dibawa Jokowi. Ia melihat Jokowi sebagai figur yang tidak berasal dari pucuk kepemimpinan partai politik, tetapi mampu menunjukkan keberhasilan saat memimpin Solo.
Gaya komunikasi Jokowi yang dinilai egaliter juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Yunarto. Menurut dia, kombinasi pengalaman memimpin daerah dan cara berkomunikasi tersebut membuat Jokowi dipandang membawa pendekatan politik yang berbeda.
Yunarto menegaskan, dukungannya ketika itu berangkat dari keyakinan terhadap gagasan dan nilai yang diperjuangkan Jokowi. Ia bukan mendekat karena berharap memperoleh posisi tertentu dalam pemerintahan.
Pandangan tersebut, kata Yunarto, masih dapat ia toleransi selama Jokowi menjabat sebagai presiden. Ia mengakui bahwa praktik politik tidak selalu hitam putih sehingga terdapat sejumlah wilayah abu-abu yang pada masa itu masih bisa dimaklumi.
Namun, toleransi tersebut memiliki batas. Yunarto menyebut 2023 sebagai titik perubahan ketika ia menilai keputusan politik Jokowi menjelang Pemilihan Presiden 2024 semakin bertentangan dengan nilai yang sebelumnya ia yakini.
"Beliau mengambil posisi yang totally menegasikan semua yang kita lihat ada sebagai nilai-nilai itu dalam dirinya," ujar Yunarto dikutip dari podcast Akbar Faizal Uncensored yang tayang Senin (13/10/2026).
Salah satu persoalan yang disorot Yunarto adalah arah politik yang dinilainya berubah dari pendekatan bawah ke atas menjadi sangat terpusat dari atas ke bawah. Ia juga mengkritik apa yang ia pandang sebagai politik dinasti ketika Jokowi masih memegang kekuasaan.
Yunarto membandingkan situasi tersebut dengan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Menurut dia, praktik politik dinasti yang ia kritik tidak berlangsung seekstrem yang ia lihat pada masa Jokowi.
Selain persoalan dinasti, Yunarto mempertanyakan keputusan Jokowi mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Ia merasa dukungan tersebut sulit diselaraskan dengan perbedaan gagasan yang sebelumnya membuat dirinya berseberangan dengan Prabowo dalam dua kontestasi pemilihan presiden.
Yunarto menilai keputusan Jokowi menerima Prabowo sebagai Menteri Pertahanan masih dapat dipahami sebagai upaya membangun harmoni politik. Namun, mendukung Prabowo untuk menjadi presiden merupakan persoalan berbeda karena, menurut Yunarto, terdapat perbedaan ideologis yang mendasar.
Baca Juga: Mahfud MD: Kritik ke Prabowo Mereda, Jokowi dan Gibran Jadi Bulan-bulanan
Ia kemudian menghubungkan dukungan tersebut dengan dugaan adanya transaksi politik dan kepentingan terkait posisi putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Pandangan itu merupakan penilaian politik Yunarto terhadap keputusan Jokowi, bukan bukti independen bahwa transaksi tersebut benar-benar terjadi.
"Artinya kita lihat beliau sedang tidak berpikir tentang negara. Beliau menggadaikan apa yang sudah dia perjuangkan untuk sebuah transaksi politik. Kompensasinya apa? Anaknya," kata Yunarto.
Yunarto juga menilai perkembangan politik setelahnya memperlihatkan ketidaksesuaian pemikiran yang sebelumnya ia persoalkan.
"Apa yang saya sebutkan barusan tadi sekarang terbukti. Perlahan terbuka ketidaksesuaian pemikiran. Tidak pernah ada perbincangan mengenai program," ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa jarak politik Yunarto dengan Jokowi berangkat dari penilaian terhadap perubahan nilai dan keputusan politik, bukan semata-mata persoalan kedekatan personal. Bagi Yunarto, dukungan yang dahulu diberikan karena gagasan tidak otomatis bertahan ketika ia menilai tindakan politik figur yang didukungnya sudah menyimpang dari prinsip awal.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: