Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Setelah Gibran, Siapa Penerus Dinasti Jokowi? Anthony Budiawan Soroti Jalan Politik Kaesang hingga 2039

        Setelah Gibran, Siapa Penerus Dinasti Jokowi? Anthony Budiawan Soroti Jalan Politik Kaesang hingga 2039 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nama Kaesang Pangarep ikut menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai masa depan pengaruh politik keluarga Joko Widodo (Jokowi). Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Prof. Anthony Budiawan, menilai peluang Kaesang untuk meneruskan pengaruh keluarganya di tingkat nasional memiliki tantangan tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan kemungkinan pencalonan presiden.

        Kaesang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Posisi tersebut memberinya peran dalam kepemimpinan partai, tetapi menurut Anthony, hal itu belum cukup untuk memastikan bahwa pengaruh politik keluarga Jokowi dapat berlanjut melalui jalur kepresidenan.

        Anthony menempatkan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai faktor penting dalam pandangannya mengenai masa depan dinasti politik Jokowi. Ia menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait persyaratan pendidikan Gibran menjadi pukulan bagi bangunan politik keluarga tersebut.

        "Seluruh bangunan politik Jokowi rapuh, semu, manipulatif dan penuh kebohongan. Politik Jokowi saat ini bergantung pada satu anak tangga, Gibran," kata Anthony kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).

        Putusan MK yang dimaksud adalah perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, yang dibacakan pada 6 Oktober 2026. Mahkamah menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan mengenai ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri Gibran yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan minimal SMA atau sederajat.

        Namun, permohonan tidak dapat diterima karena para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum, dan MK menegaskan tidak dapat mendiskualifikasi Gibran dari jabatan wakil presiden melalui perkara tersebut.

        Dari situ, Anthony menghubungkan posisi Gibran dengan prospek politik anggota keluarga Jokowi lainnya. Ia memandang Gibran sebagai figur yang selama ini diharapkan dapat meneruskan pengaruh politik sang ayah, sedangkan Kaesang dinilainya masih memiliki jalan panjang apabila ingin memasuki persaingan menuju kursi presiden.

        Anthony memperkirakan peluang Kaesang untuk maju dalam Pilpres 2029 masih terbatas karena faktor usia. Ia menyebut kesempatan yang lebih memungkinkan baru terbuka pada 2039, ketika Kaesang telah memasuki usia yang menurut perhitungannya lebih sesuai dengan persyaratan pencalonan presiden.

        Baca Juga: Ini Skenario Terpuruk Jika Status Gibran Masih 'Ngambang' Pasca Putusan MK

        "Kesempatan pertamanya baru pada 2039, tiga belas tahun dari sekarang. Pada 2039, kalau diberi umur panjang, Jokowi berusia 78 tahun. Mengapa kita mengasumsikan keturunan Jokowi akan maju dalam pilpres? Bukan karena Gibran atau Kaesang hebat dan layak," ujar Anthony.

        Meski demikian, perkiraan mengenai 2039 tersebut perlu dibaca sebagai analisis Anthony, bukan kepastian hukum atau jadwal pencalonan Kaesang.

        Persyaratan usia calon presiden juga perlu dipahami bersama ketentuan hukum yang berlaku, termasuk putusan MK mengenai batas usia dan pengalaman sebagai pejabat yang dipilih melalui pemilihan umum.

        Anthony juga menyebut kemungkinan Kaesang menempuh jalur politik legislatif, baik di DPRD maupun DPR RI. Namun, ia tidak memaparkan dasar yang memastikan bahwa karier politik Kaesang hanya akan berhenti pada dua jalur tersebut.

        Perjalanan Kaesang di PSI sendiri menjadi salah satu faktor yang membuat masa depan politiknya berbeda dari Gibran.

        Sebagai ketua umum partai, ia memiliki ruang untuk membangun organisasi, memperluas dukungan politik, dan menentukan arah strategi partainya, meskipun hal tersebut tidak otomatis menjamin pencalonan pada pemilihan presiden mendatang.

        Pandangan Anthony mengenai Kaesang tidak dapat dilepaskan dari kritiknya terhadap dinasti politik. Ia mempertanyakan asumsi bahwa anggota keluarga seorang mantan presiden akan melanjutkan karier politik hanya karena hubungan keluarga, bukan berdasarkan kapasitas dan dukungan yang mereka bangun sendiri.

        Di sisi lain, keberlanjutan pengaruh keluarga Jokowi tidak hanya bergantung pada peluang Kaesang menjadi presiden. Kepemimpinan partai, posisi politik anggota keluarga lain, serta hubungan dengan partai-partai di tingkat nasional juga dapat memengaruhi seberapa jauh pengaruh tersebut bertahan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: