Menhut Bantah Berpangku Tangan soal Karhutla, Singgung Modifikasi Cuaca di Kalimantan
Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni membantah anggan yang menyebut pihaknya berpangku tangan dan kurang responsif dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Pemerintah meningkatkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui operasi modifikasi cuaca, pemadaman dari udara, hingga penambahan personel di lapangan. Langkah ini dilakukan karena hujan alami di wilayah tersebut diperkirakan baru turun pada awal November 2026.
Menhut Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah terus mengupayakan berbagai cara untuk mengendalikan kebakaran tanpa hanya mengandalkan hujan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap dilaksanakan selama tersedia awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Seperti yang diprediksi oleh BMKG, hujan alami ini baru akan ada di Kalimantan Tengah ini mungkin nanti di awal November. Sementara operasi modifikasi cuaca terus kita lakukan, kita tidak pernah berpangku tangan," ujar Raja di Taman Nasional Sebangau, Kalteng, Selasa (13/10/2026), dikutip dari keterangannya.
Raja menjelaskan, penyemaian awan dilakukan untuk membantu meningkatkan curah hujan dan membasahi wilayah yang membutuhkan. Upaya tersebut tidak terbatas pada daerah yang sedang mengalami kebakaran, tetapi juga menyasar wilayah lain yang memiliki potensi awan hujan.
Baca Juga: Korupsi Dana Bencana Masih Diselidiki, 223 Warga Ditetapkan jadi Tersangka Karhutla
"OMC dilakukan di mana ada bibit awan ya. Apakah itu kabupaten yang ada karhutla atau tidak, tetap kita semai untuk melakukan pelembaban. Kalau syukur-syukur pemadaman dengan curah hujan yang tinggi," jelasnya.
Selain mengandalkan OMC, pemerintah mengerahkan helikopter untuk melakukan pemadaman melalui teknik water bombing, yakni menjatuhkan air langsung ke titik kebakaran.
Namun, pelaksanaan operasi udara menghadapi kendala ketika jarak pandang tidak memungkinkan helikopter terbang dengan aman.
Raja mengatakan, tim tetap memanfaatkan kondisi cuaca yang mendukung agar pemadaman dari udara dapat dilakukan ketika memungkinkan.
Di darat, upaya pengendalian api diperkuat melalui penambahan personel dan peralatan. Raja menyebut Kapolda Kalimantan Tengah telah mendorong penambahan pasukan untuk membantu pemadaman di wilayah terdampak.
Pangdam setempat juga turun langsung memimpin operasi di lapangan. Selain pengerahan personel, petugas menggunakan drone termal untuk memantau kondisi kebakaran, termasuk mengidentifikasi pergerakan kepala api sebagai dasar menentukan strategi pemadaman.
"Strategi penanganan diperkuat dengan pemantauan menggunakan drone thermal untuk mengidentifikasi pergerakan kepala api dan menentukan strategi pemadaman," imbuh Raja.
Raja turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan kritik dan masukan terhadap penanganan karhutla. Menurutnya, berbagai evaluasi tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah untuk meningkatkan upaya pengendalian kebakaran.
"Jadi sekali lagi terima kasih ya kritik saran, evaluasi, bahkan kritik pedas sekalipun ya. Kami dengar. Itu menjadi motivasi kami untuk bergerak lebih serius lagi untuk mengatasi ini," ujar Menhut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: