Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Satu Prompt AI Butuh Energi hingga 3 Wh, Komdigi Ungkap Kesiapan Infrastruktur

        Satu Prompt AI Butuh Energi hingga 3 Wh, Komdigi Ungkap Kesiapan Infrastruktur Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan pengembangan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia perlu diimbangi dengan kesiapan pasokan energi dan pemanfaatan teknologi yang efisien. Pasalnya, peningkatan kapasitas komputasi untuk mendukung AI turut mendorong kebutuhan listrik dan air.

        Nezar mengatakan pembangunan infrastruktur digital tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas komputasi. Infrastruktur tersebut juga harus dimanfaatkan secara tepat agar mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian.

        “Semua infrastruktur, semua compute power yang kita punya, maknanya akan berkurang atau mungkin juga meaningless kalau dia tidak diadopsi dengan tepat dan efisien,” ujarnya dalam Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta Pusat, dikutip Kamis (15/10/2026).

        Menurut Nezar, kebutuhan energi menjadi salah satu aspek mendasar dalam pengembangan teknologi AI. Ia menyebut satu perintah atau prompt pada platform AI generatif membutuhkan energi sekitar 0,24 hingga 3 watt-jam (Wh).

        “Listrik dan air ini berada di basis paling bawah dari AI full stack,” jelasnya.

        Untuk membangun ekosistem digital yang memadai, Nezar menjelaskan pemerintah mengandalkan empat lapisan utama infrastruktur, yakni komputasi (compute), energi (power), konektivitas (connectivity), dan adopsi (adoption).

        Keempat lapisan tersebut perlu dikembangkan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan pusat data yang andal dan tata kelola data hingga penguatan jaringan serat optik, kabel laut, serta jaringan seluler.

        “Target kita bukan sekadar menambah megawatt, tetapi memastikan kapasitas itu menjadi pusat data yang andal,” tegasnya.

        Nezar menambahkan, pembangunan infrastruktur digital harus menghasilkan konektivitas yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Dalam hal ini, pemanfaatan AI diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), membantu tenaga medis mendiagnosis penyakit, serta mendukung petani dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi cuaca.

        Teknologi tersebut, misalnya, dapat membantu petani menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga panen. Dengan demikian, perluasan konektivitas tidak berhenti pada pembangunan jaringan, tetapi juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

        “Kita ingin konektivitas yang sudah terbangun ini bisa menjadi meaningful connectivity, konektivitas yang bermakna,” ungkap Nezar.

        Selain kesiapan energi dan komputasi, Nezar menyoroti potensi mineral kritis Indonesia sebagai modal untuk mengembangkan industri teknologi bernilai tambah. Indonesia memiliki sejumlah komoditas, seperti nikel, timah, tembaga, bauksit, dan pasir silika, yang berpotensi mendukung pengembangan industri semikonduktor serta komponen teknologi.

        Menurutnya, potensi sumber daya mineral tersebut perlu diintegrasikan dengan penguatan energi, kapasitas komputasi, dan kualitas sumber daya manusia. Langkah ini diperlukan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga dapat mengambil bagian lebih besar dalam rantai nilai industri teknologi.

        “Memadukan antara mineral, energi, dan komputasi sebagai satu paket untuk meningkatkan daya saing kita,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: