Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Guru Besar NTU Singapore Beberkan Kejanggalan Pendidikan Gibran: O-Level itu Hanya Setara SMP dan Bukan SMA Penuh

        Guru Besar NTU Singapore Beberkan Kejanggalan Pendidikan Gibran: O-Level itu Hanya Setara SMP dan Bukan SMA Penuh Kredit Foto: Istock photo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Guru Besar Nanyang Technological University (NTU) Singapore, Prof. Sulfikar Amir, membeberkan analisis akademis terkait riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

        Menurutnya, kualifikasi GCE O-Level yang dikantongi Gibran dari Singapura dinilai tidak memenuhi standar penyetaraan sekolah menengah atas (SMA) penuh di Indonesia.

        Melalui penjelasan mendalam mengenai struktur kurikulum di Singapura, Sulfikar merinci perbedaan mendasar antara sistem pendidikan luar negeri tersebut dengan jenjang pendidikan di tanah air.

        Sulfikar menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Singapura mengadopsi model British System. Jenjang Primary School selama enam tahun setara dengan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia, yang kemudian dilanjutkan ke jenjang Secondary School selama empat tahun dan diakhiri dengan ujian GCE O-Level.

        Gibran tercatat menempuh pendidikan Secondary School di Orchid Park Secondary School dan menyelesaikan kualifikasi O-Level. Namun, menurut Sulfikar, jenjang tersebut tidak bisa disetarakan dengan ijazah SMA penuh di Indonesia.

        "Jika disetarakan dengan sistem di Indonesia, O-Level itu berada pada kisaran SMP kelas sembilan hingga kelas sepuluh atau kelas satu SMA. Itu bukan jenjang SMA penuh," terang Prof. Sulfikar.

        Untuk dianggap menyelesaikan pendidikan menengah atas secara penuh di Singapura atau memenuhi syarat masuk universitas negeri, seorang siswa wajib melanjutkan ke jenjang Junior College dan lulus ujian GCE A-Level. Jalur A-Level inilah yang diketahui tidak pernah ditempuh oleh Gibran.

        Usai menyelesaikan O-Level, Gibran melanjutkan studi ke Management Development Institute of Singapore (MDIS). Sulfikar memberikan catatan khusus mengenai status lembaga pendidikan swasta tersebut.

        Ia menegaskan bahwa MDIS merupakan lembaga yang menjalankan kurikulum dari universitas asing mitra, seperti University of Bradford, dan tidak menerbitkan ijazah atas nama lembaganya sendiri. Ijazah yang diperoleh mahasiswa murni berasal dari universitas mitra yang bekerjasama.

        Kondisi ini memicu pertanyaan akademis dari Sulfikar mengenai proses penerimaan Gibran di lembaga tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana kualifikasi O-Level yang belum setara SMA penuh bisa meloloskan seseorang ke jenjang pendidikan tinggi di Singapura.

        Ia menekankan bahwa untuk menembus perguruan tinggi papan atas seperti NTU, kepemilikan kualifikasi A-Level bersifat mutlak.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: