Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menperin: Rusia Tawarkan Teknologi Kapal Ikan Modern dan Kerja Sama IT ke RI

        Menperin: Rusia Tawarkan Teknologi Kapal Ikan Modern dan Kerja Sama IT ke RI Kredit Foto: Kemenperin
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rusia menawarkan kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan kapal penangkap ikan dan teknologi informasi (IT). Pemerintah Indonesia kini menjajaki peluang tersebut, termasuk kemungkinan pemanfaatan teknologi Rusia untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri.

        Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, tawaran itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Gruzdev dalam pertemuan di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

        “Ada beberapa penawaran yang diajukan, termasuk di bidang perkapalan, mereka menawarkan kerja sama kapal ikan. Mereka punya teknologi dan keahlian yang mungkin bisa kita kerjasamakan. Selain itu, juga ada di bidang IT yang mereka tawarkan,” ujar Sarmuji.

        Kerja sama tersebut berpotensi mencakup pengembangan kapal penangkap ikan modern yang dilengkapi fasilitas pengolahan hasil perikanan di atas kapal. Namun, rencana ini masih perlu dikaji dari sisi kebutuhan operasional, kelayakan komersial, serta kemampuan industri perkapalan nasional untuk terlibat.

        Baca Juga: Menperin Bongkar Alarm Lapangan Kerja RI: Ekonomi Tumbuh, Serapan Pekerja Menyusut!

        Peluang kolaborasi juga terbuka melalui kemitraan Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) dengan perusahaan perkapalan Rusia, Ak Bars. Kerja sama ini dapat dikembangkan ke bidang desain dan rekayasa kapal, produksi komponen, hingga pemeliharaan dan perbaikan kapal.

        Selain perkapalan dan teknologi digital, Kementerian Perindustrian melihat peluang kerja sama dengan Rusia pada tiga sektor lainnya, yakni permesinan dan rekayasa, peralatan serta komponen perkeretaapian, dan pupuk serta bahan kimia.

        Di bidang permesinan, kedua negara berpeluang menjajaki pengembangan komponen industri, perakitan lokal, serta layanan pemeliharaan dan perbaikan. Kolaborasi juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pemasok domestik agar dapat terlibat dalam rantai produksi.

        Sementara itu, kerja sama teknologi digital dapat mencakup peralatan telekomunikasi, sistem serat optik, digitalisasi proses produksi, dan otomasi industri.

        Adapun di sektor pupuk, salah satu rencana yang tengah dijajaki adalah studi bersama PT Pupuk Indonesia mengenai potensi investasi pembangunan pabrik pupuk urea di Vladivostok, Rusia.

        Penjajakan ini merupakan bagian dari tindak lanjut kesepahaman Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan di Vladivostok pada 3 September 2026.

        Sarmuji mengatakan, pemerintah juga membuka peluang kemitraan di industri pengolahan makanan, farmasi, furnitur, barang konsumsi, dan industri hilir lainnya yang memiliki prospek investasi serta pengembangan produksi di dalam negeri.

        “Kerja sama pada sektor-sektor tersebut kami harapkan dapat memperluas kemampuan industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia,” kata Sarmuji.

        Perdagangan Masih Didominasi Komoditas Tertentu

        Peluang kerja sama industri kedua negara juga dapat dilihat dari pola perdagangan yang telah berjalan. Berdasarkan data Trade Map 2025, ekspor Indonesia ke Rusia didominasi kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dengan nilai US$972,84 juta.

        Komoditas ekspor lainnya meliputi bahan kimia anorganik senilai US$300,34 juta, kakao dan produk olahannya sebesar US$122,68 juta, serta kopi, teh, maté, dan rempah-rempah senilai US$111,22 juta.

        Indonesia juga memasok Rusia dengan sejumlah produk lain, seperti mesin dan peralatan mekanis, karet, olahan pangan, alas kaki, serta produk kayu.

        Sebaliknya, impor Indonesia dari Rusia pada 2025 didominasi bahan bakar mineral dan minyak mineral senilai US$1,76 miliar. Pupuk menempati posisi berikutnya dengan nilai US$697,96 juta, disusul besi dan baja sebesar US$268,70 juta.

        Komposisi perdagangan tersebut memperlihatkan adanya hubungan pasokan di sektor energi dan pupuk, yang dapat menjadi salah satu landasan untuk menjajaki kerja sama industri lebih lanjut.

        Kemenperin Minta Proyek Prioritas Diperjelas

        Meski sejumlah peluang telah dibahas, pemerintah masih perlu mengidentifikasi proyek yang dapat ditindaklanjuti secara konkret. Kemenperin mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menyepakati proyek industri prioritas, termasuk menentukan langkah lanjutan dari masing-masing pihak.

        “Nanti kita akan dalami lebih lanjut. Pada prinsipnya, Kementerian Perindustrian menyambut baik dan siap memfasilitasi dengan stakeholder yang lain. Kita juga akan minta Rusia untuk menyiapkan langkah-langkah lanjutannya,” kata Sarmuji.

        Baca Juga: TKDN Mobil Listrik 60% Bisa Dikejar, Kemenperin Ungkap Syaratnya

        Baca Juga: Kemenperin Perkuat Perlindungan Tenun Daerah, Ulos Ragidup Silindung Jadi Contoh

        Hubungan industri kedua negara sebelumnya diperkuat melalui partisipasi Indonesia sebagai Negara Mitra Resmi (Official Partner Country) dalam pameran industri internasional INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, pada Juli lalu.

        Partisipasi tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku industri Indonesia untuk memperkenalkan kemampuan manufaktur nasional sekaligus menjajaki kemitraan dengan perusahaan Rusia dan negara-negara di kawasan Eurasia.

        Sarmuji berharap keanggotaan Indonesia dan Rusia dalam BRICS dapat membuka ruang lebih luas bagi pengembangan investasi dan kerja sama industri. Namun, realisasi peluang yang telah dibahas akan bergantung pada tindak lanjut dan penetapan proyek yang dinilai layak oleh kedua negara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: