Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Guru Besar Unair: Dulu Saya Kagumi Jokowi, tapi Setelah Gibran Jadi Walikota, Saya Curiga...

        Guru Besar Unair: Dulu Saya Kagumi Jokowi, tapi Setelah Gibran Jadi Walikota, Saya Curiga... Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Henri Subiakto, mengungkap perubahan pandangannya terhadap Joko Widodo (Jokowi) dan putranya, Gibran Rakabuming Raka. Ia mengaku sempat mengagumi sosok Jokowi yang dinilainya sederhana dan berbeda dari elite politik lainnya. 

        Pengalaman pribadi Henri saat mengenal Jokowi sebelum menjadi presiden turut membentuk pandangan positifnya ketika itu. Ia menilai gaya komunikasi dan latar belakang Jokowi membuat mantan presiden tersebut memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat.

        "Saya kenal pak Jokowi sebelum beliau jadi presiden. Saya kagum dengan penampilannya yg sederhana. Halus tutur katanya, dan nampak kelihatan sabar. Pak Jokowi itu berbeda dengan elit politik lain. Dia bukan keturunan ningrat. Bukan keluarga pejabat. Dia hanya berasal dari rakyat biasa, seperti kebanyakan kita," tulisnya di akun X, dikutip Sabtu (17/10/2026).

        Baca Juga: Gibran Didesak Lengser, Relawan Singgung Ada Orang yang Incar Kursi Wapres

        Menurut Henri, citra kesederhanaan itulah yang membedakan Jokowi dari sejumlah tokoh politik nasional lainnya, termasuk Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Megawati Soekarnoputri. 

        "Jokowi itu atributnya representasi rakyat kecil," ujarnya.

        Kesan positif tersebut, lanjut Henri, juga terlihat pada Gibran sebelum terjun ke dunia politik. Saat itu, putra Jokowi tersebut dinilai menjalani kehidupan sederhana dan lebih dikenal dengan aktivitas bisnis martabaknya ketimbang ambisi menduduki jabatan publik.

        "Daya tarik kesederhanaan Jokowi juga nampak dari penampilan kesederhanaan aktivitas anaknya, salah satunya Gibran. Sebagai anak presiden, Gibran dikesankan hanya sibuk bisnis martabak. Tidak tergantung kewenangan orang tua. Seolah Gibran tak mau berpolitik dan tak tertarik jabatan. Dia anak yang sederhana, sebagaimana bapaknya," ungkap Henri.

        Baca Juga: Politisi PDIP: Gibran Kayaknya Gak Mau Mundur, Jokowi Juga Ogah Mendorong

        Henri bahkan menceritakan pengalamannya bertemu Gibran di bandara Solo. Dalam pertemuan itu, ia melihat Gibran bepergian tanpa pengawalan khusus dan mengalami situasi yang sama seperti penumpang lainnya.

        "Sayapun pernah ketemu di bandara Solo, Gibran nampak tidak dikawal dan pergi ke Surabaya seperti rakyat biasa. Naik satu pesawat dengan saya. Sama sama kena delay dan sempat kehujanan. Itu membuat saya kagum, ternyata anak Presiden ini tidak minta difasilitasi khusus ataupun dikawal," lanjut dia.

        Namun, pandangan Henri mulai berubah setelah Gibran menjabat sebagai Wali Kota Solo. Ia mengaku mulai mempertanyakan agenda politik di balik perkembangan karier Gibran. Kecurigaan itu semakin menguat ketika ia menyoroti pembangunan infrastruktur pada era pemerintahan Jokowi, yang menurutnya menyisakan persoalan ekonomi.

        "Tapi setelah Gibran jadi Walikota Solo, sayapun mulai curiga, terhadap agenda yg ada di belakangnya. Terlebih pembangunan infrastruktur yang dihasilkan pemerintahan Jokowi, ternyata banyak masalah dan menenggelamkan pemerintah ke dalam beban hutang yg sangat berat. Di era Jokowi terjadi ketergantungan ekonomi pada Oligarki dan cengkeraman asing yang mengkhawatirkan," sebutnya.

        Puncak perubahan pandangannya terjadi ketika Gibran maju sebagai calon wakil presiden pada usia yang relatif muda. Henri menyoroti proses yang menurutnya membuka jalan bagi Gibran untuk mengikuti kontestasi tersebut, termasuk perubahan regulasi yang ia anggap memfasilitasi kepentingan politik keluarga Jokowi.

        "Apalagi saat kemudian Gibran terbaca diberi jalan dan difasilitasi bisa maju jadi calon Wakil Presiden di usianya yang masih sangat muda, dengan menabrak ketentuan UU. Hingga terjadi rekayasa regulasi untuk memfasilitasi anak ini. Karena merekayasa regulasi inilah saya sudah tidak percaya lagi dengan mekanisme Demokrasi yang memfasilitasi politik dinasti Jokowi," tuturnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: