Situasi Makin Mencekam, Demo Prancis Meluas ke Italia, Albania, hingga Belgia
Kredit Foto: Twitter/Robert Spencer
Gelombang demonstrasi yang menyoroti mahalnya biaya hidup meluas di sejumlah negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026). Di Italia, bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi di beberapa kota, sementara kerusuhan di Albania diwarnai pembakaran bangunan, penjarahan, dan penggunaan peluru karet oleh aparat.
Di Italia, aksi berlangsung di Milan, Turin, Bologna, dan Roma. Demonstrasi di ibu kota digelar serikat pekerja CGIL sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni, di tengah kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar.
Sekretaris Jenderal CGIL Maurizio Landini juga mengumumkan rencana demonstrasi pada 20 November mendatang. Aksi tersebut akan berlangsung bersamaan dengan mogok mahasiswa berskala Eropa yang telah dijadwalkan pada tanggal yang sama.
Bentrokan paling menonjol terjadi di Milan, tepatnya di Piazza del Duomo. Sejumlah demonstran bertopeng melemparkan alat pemadam kebakaran, bom asap, dan meja kafe ke arah polisi, yang kemudian membalas menggunakan tongkat pemukul dan meriam air. Laporan awal menyebut beberapa orang terluka, termasuk seorang perempuan muda dan seorang polisi yang mengalami luka di kepala, sedangkan 50 orang ditahan.
Di Bologna, demonstran muda melemparkan batu dan botol ke arah petugas yang merespons dengan tongkat pemukul dan gas air mata. Sementara itu, massa di Turin meneriakkan slogan yang menyasar National Future, partai sayap kanan jauh pimpinan mantan jenderal Roberto Vannacci.
Situasi lebih parah terjadi di Tirana, ibu kota Albania, yang dilanda kerusuhan selama lima hari berturut-turut. Demonstran yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama terlibat bentrokan dengan polisi, membakar bangunan, merusak fasilitas umum, dan menjarah sejumlah lokasi.
Setelah dipukul mundur dari kantor perdana menteri, sebagian demonstran bergerak menuju Mahkamah Agung dan melemparkan bom molotov. Serangan tersebut memicu kebakaran di sejumlah kantor dan sebuah mobil, sementara kelompok lain merusak serta membakar bangunan yang digunakan oleh OTP Bank dan melemparkan benda-benda ke arah kantor Bank Albania.
Menteri Kehakiman Albania Toni Gogu mengecam serangan terhadap lembaga-lembaga tersebut. Di tengah situasi yang memanas, polisi untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai menggunakan peluru karet, meskipun menurut hukum setempat tindakan itu hanya diperbolehkan dalam kondisi ekstrem.
"Hari ini, untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai, polisi menggunakan peluru karet sebagai tindakan ekstrem, padahal mereka tahu ada anak di bawah umur berusia 16 dan 17 tahun di antara para demonstran," kata mahasiswa bernama Redi Taku kepada AFP.
Gelombang protes juga menjalar ke Brussel, Belgia, ketika ratusan orang, sebagian besar anak muda, turun ke jalan untuk menentang kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang dikhawatirkan membatasi akses ke perguruan tinggi. Bentrokan terjadi ketika polisi menggunakan gas air mata dan meriam air, sementara demonstran membalikkan sebuah mobil.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin memperingatkan bahwa situasi di Brussel telah melampaui aksi protes biasa. Rangkaian demonstrasi di Italia, Albania, dan Belgia memperlihatkan meluasnya ketegangan sosial di Eropa, meski tuntutan dan pemicu kerusuhan di setiap negara tidak sepenuhnya sama.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: