Mulai Lupakan Prabowo, Pengamat Sebut Jokowi Menolak Diam dan Bangun Arena Politik Baru dengan PSI
Kredit Foto: Ist
Keputusan Eks Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk pensiun dari hiruk-pikuk politik nasional tampaknya hanya isapan jempol belaka. Ia disebut-sebut tengah mempersiapkan sebuah episentrum kekuasaan baru dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pengamat Komunikasi Politik, Hendri Satrio (Hensa) mengatakan bahwa mantan presiden itu tidak memiliki dna politik untuk sekadar duduk manis menjadi penonton ketika dirinya mulai merasa ditinggalkan atau tidak lagi dianggap penting dalam lanskap politik nasional, dalam hal ini tidak dianggap oleh Prabowo Subianto.
Baca Juga: Di Balik Berubahnya Sikap Jokowi ke Prabowo: Dia Merasa Ditinggalkan dalam Keputusan Langkah Besar
Hensa memaparkan bahwa dalam teori perilaku elite politik, figur sentral yang tiba-tiba terdepak atau merasa diasingkan dari lingkar kekuasaan umumnya hanya dihadapkan pada dua pilihan ekstrem: pasrah dan diam, atau bangkit melawan dengan membangun panggungnya sendiri.
Untuk Jokowi, Hensa sangat yakin bahwa sang mantan presiden memilih opsi kedua dengan membangun kekuatan baru bersama dengan PSI.
"Pak Jokowi memilih membangun panggung baru, bukan diam. PSI adalah kendaraan politik yang paling dekat dan paling masuk akal untuk itu," ujar Hensa dikutip Senin (19/10/2026).
Pilihan untuk menggunakan partai itu sebagai sekoci politik dinilai sebagai langkah yang sangat masuk akal dan efisien. Mengingat partai gajah tersebut saat ini dikendalikan penuh oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
Jokowi melalui partai tersebut tidak perlu lagi repot-repot merintis partai dari nol atau bersusah payah merebut faksi di internal partai besar seperti yang selama ini terjadi dalam dinamika partai-partai mapan.
Dengan mengambil alih kendali de facto atas partai itu, politikus senior itu dapat mengkonsolidasikan kembali sisa-sisa relawan loyalisnya dan menyatukannya dengan basis pemilih muda partai tersebut. Langkah ini diyakini akan memberikannya sebuah platform negosiasi (bargaining power) yang kuat ke Prabowo Subianto.
Kehadiran Jokowi secara penuh di balik layar tidak hanya akan mengubah konstelasi partai non-parlemen tersebut, tetapi juga berpotensi menciptakan blok kekuatan baru yang sewaktu-waktu dapat mendukung, mengkritisi, atau bahkan menggoyang stabilitas koalisi penguasa jika kepentingan politik dinasti keluarganya merasa terancam.
Sebelumnya, Jokowi telah menuding polemik ijazah yang menyeret keluarganya adalah ulah pihak luar yang ingin menjatuhkan reputasi politiknya di Indonesia.
Baca Juga: Hakim Tolak Perlawanan Roy Suryo, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Dilanjutkan ke Pembuktian!
"Sekali lagi, ini operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang. Saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi ramai lagi," ungkap Jokowi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar