Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan pada RDG Oktober Ini

        BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan pada RDG Oktober Ini Kredit Foto: PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS)
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026. 

        Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter global dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

        Rupiah tercatat melemah 0,4% secara week-on-week (WoW) ke level Rp17.984 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah perkembangan inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga masih perlu dicermati oleh pelaku pasar.

        Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS pada September tercatat tumbuh 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti atau core CPI tercatat sebesar 2,6% YoY.

        Angka inflasi utama yang melampaui perkiraan tersebut dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), sehingga dinamika suku bunga global dan pergerakan dolar AS tetap menjadi faktor penting bagi pasar keuangan domestik.

        Baca Juga: BI Ogah Naikkan Suku Bunga, Rupiah Terancam Makin Loyo?

        Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS, Terkatrol Tiga Instrumen Bank Indonesia

        Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun melandai ke kisaran 5,10%. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang dicermati investor dalam menilai prospek suku bunga global dan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

        BRI Danareksa Sekuritas menilai BI kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan pada RDG Oktober di level 5,75%. Namun, risiko pengetatan kebijakan moneter masih terbuka apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut dan kondisi eksternal memburuk.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: