Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Dekati Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah Suku Bunga BI

        Rupiah Dekati Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah Suku Bunga BI Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp18.046 atau melemah 19 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.027 per dolar AS. 

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan domestik dan global. 

        Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi Standalone Market, yang masih dalam tahap pengkajian dan belum dipastikan akan diterapkan.

        Menurut Ibrahim, wacana tersebut turut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Di saat yang sama, lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$110 per barel menambah tekanan dan mendorong investor cenderung menghindari aset berisiko.

        Dari sisi domestik, upaya otoritas bursa memperketat penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pelanggaran dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek. Meski demikian, langkah tersebut berpotensi memperkuat kredibilitas dan kepercayaan investor dalam jangka panjang apabila dilaksanakan secara konsisten dan transparan.

        Bursa juga mengumumkan penurunan batas auto-rejection menjadi 7% dari sebelumnya 15%, yang disebut berlaku mulai Senin hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut hadir di tengah upaya regulator memperkuat pengawasan pasar, termasuk setelah pengenaan denda administratif dengan total mencapai Rp2,1 triliun terhadap pihak-pihak terkait perdagangan saham dan penawaran umum perdana (IPO) tiga perusahaan besar.

        Baca Juga: IHSG Anjlok ke 4.920,57: Investor Panik akibat MSCI dan Rupiah Tertekan

        Baca Juga: Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.035 per Dolar AS

        "Ruang gerak Bank Indonesia (BI) juga jadi perhatian. Intervensi di pasar NDF dan Domestic NDF, serta instrumen lainnya diupayakan untuk meredam volatilitas," jelas dia kepada wartawan.

        Namun efektivitas intervensi itu, menurut Ibrahim, akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan yang dihadapi dan seberapa cepat kepercayaan pulih.

        Dalam kondisi seperti ini, kenaikan suku bunga acuan berpotensi jadi pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bahkan BI diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan pada pertemuan Oktober ke 6%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: