Bos BI Sebut Penurunan Produksi di Daerah Jadi Pemicu Kenaikan Inflasi Pangan 5,03%
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyoroti kenaikan inflasi pangan yang mencapai 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Kenaikan tersebut dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca.
“Sementara itu, inflasi kelompok volatile food naik menjadi 5,03%, dipengaruhi oleh penurunan produksi di beberapa daerah sentra terutama akibat gangguan cuaca,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/10/2026).
Secara keseluruhan, inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% yoy, meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 3,19% yoy. Sebaliknya, inflasi inti turun menjadi 2,84% yoy.
Sementara itu, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) tercatat sebesar 3,25% yoy, antara lain dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara.
Untuk mengendalikan tekanan harga pangan, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID). Upaya tersebut dilakukan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75%
Baca Juga: Penggunaan Saham JARR-PGUN Sebagai Agunan Kredit Perlu Diimbangi Mitigasi Risiko Ketat
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui TPIP-TPID dalam implementasi GPIPS guna mengendalikan inflasi pangan,” ujar Destry.
BI menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027. Bank sentral juga akan memperkuat bauran kebijakan moneter, termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah, untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: