Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berpeluang Rebound, tapi Ancaman Yield Obligasi dan MSCI Masih Membayangi

        IHSG Berpeluang Rebound, tapi Ancaman Yield Obligasi dan MSCI Masih Membayangi Kredit Foto: Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Namun, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan ketidakpastian perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi risiko bagi pergerakan indeks.

        Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai IHSG secara teknikal mulai membuka peluang pemulihan atau bullish rebound setelah menyelesaikan bagian awal pola gelombang kelima (wave 5/(C)/Y). Meski demikian, tekanan jual masih perlu diwaspadai.

        Pada Rabu (21/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,93% ke level 5.328,360 setelah sempat menyentuh 5.185,360. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal positif, tetapi penurunan volume perdagangan mengindikasikan penguatan indeks masih perlu dikonfirmasi.

        Sentimen domestik turut ditopang keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.

        Nafan menyoroti kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun sebesar 3,86% ke level 7,446%. Kenaikan ini terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

        Menurut Nafan, kenaikan yield mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko serta ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer).

        “Kenaikan yield obligasi berpotensi mendorong aliran modal keluar, menekan rupiah, dan meningkatkan biaya pendanaan perusahaan," kata dia dalam riset hariannya, Kamis (22/10/2026).

        Yield yang tinggi juga dapat membuat obligasi lebih menarik dibandingkan saham. Dampaknya berpotensi terasa pada saham perbankan berkapitalisasi besar, properti, infrastruktur, dan teknologi, terutama emiten yang sensitif terhadap suku bunga atau memiliki beban utang tinggi. Kondisi ini dapat membatasi penguatan IHSG pada perdagangan berikutnya.

        Sanksi OJK Bisa Tingkatkan Kepercayaan Investor

        Di sisi lain, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi kepada sejumlah pihak terkait dugaan manipulasi perdagangan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta pelanggaran dalam IPO PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dinilai berpotensi menjadi sentimen positif.

        Nafan menilai penegakan hukum dapat memperkuat transparansi, integritas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia. Langkah ini juga relevan untuk menjawab perhatian MSCI terhadap kualitas pasar dan kepercayaan investor.

        Dari global, optimisme terhadap laporan keuangan kuartal III-2026 turut ditopang kinerja saham teknologi dan perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

        Saham NVIDIA naik 2,54%, IBM menguat 3,96%, dan Super Micro Computer melonjak 9,55%. Sementara itu, indeks volatilitas CBOE (VIX) turun 3,64% ke level 16,68, menandakan meredanya kekhawatiran pasar terhadap gejolak jangka pendek.

        Baca Juga: IHSG Mulai Bangkit, tapi Pemulihan Pasar Saham Belum Aman!

        Baca Juga: OJK-BEI Temui Investor Usai Pengumuman MSCI, Ini yang Dibahas

        "Meski sentimen global membaik, investor tetap perlu mencermati tekanan dari pasar obligasi dan ketidakpastian MSCI yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG," jelas Nafan.

        Ini Level Kunci IHSG yang Perlu Dicermati

        Nafan memproyeksikan level teknikal IHSG sebagai berikut:

        • Support: 5.111 dan 4.907.
        • Resistance: 5.427 dan 5.597.

        Support merupakan area yang berpotensi menahan pelemahan indeks, sedangkan resistance menjadi area yang dapat menghambat kenaikan.

        Di tengah peluang rebound dan risiko volatilitas, Nafan menyarankan investor mengakumulasi saham secara selektif dengan mengutamakan emiten berfundamental solid, neraca keuangan sehat, prospek pertumbuhan jelas, dan likuiditas perdagangan yang kuat.

        Investor juga perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin, terutama selama ketidakpastian terkait MSCI masih membayangi pasar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: