Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengamat: Kalau Dedi Mulyadi Gagal Nyapres, Basis Suaranya Akan Bermigrasi ke Gibran dan AHY

        Pengamat: Kalau Dedi Mulyadi Gagal Nyapres, Basis Suaranya Akan Bermigrasi ke Gibran dan AHY Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Teori linieritas dalam politik nyatanya tidak selalu berlaku ketika dihadapkan pada perilaku pemilih di akar rumput. Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru saja memublikasikan temuan yang mengindikasikan adanya anomali migrasi dukungan politik yang sangat krusial terkait dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

        Direktur Saiful Mujani Research and Consulting, Deni Irvani mengatakan bahwa basis suara gubernur tersebut dalam survei terbarunya (1-10 Oktober 2026) mencapai angka 35,5 persen. Namun jika ia gagal nyapres, basis suara tersebut dipastikan tidak akan beralih kepada Presiden Prabowo Subianto.

        Baca Juga: Terlalu Banyak Pencari Kerja, Dedi Mulyadi Akui Sulit Berantas Total Pengangguran di Jabar

        Lumbung suara gubernur tersebut justru menyebar dan terdistribusi kepada dua figur politisi muda, yakni sosok dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

        "Jadi, suara dia yang sangat kuat itu tidak berhasil ditarik oleh presiden dan lebih tersebar kepada Agus Harimurti Yudhoyono dan Gibran Rakabuming Raka," terang Deni Irvani dikutip Kamis (22/10/2026).

        Kegagalan Prabowo Subianto menjadi magnet bagi swing voters pendukung gubernur tersebut terpotret dengan sangat jelas manakala lembaga terkait melakukan uji elektabilitas dengan menggunakan simulasi tiga nama. Dalam pertarungan simulasi yang menyisakan nama presiden, petahana justru terhempas ke posisi buncit dengan selisih suara yang sangat mengkhawatirkan, berbeda dengan nasib dari Gibran dan AHY.

        Gibran Rakabuming Raka dalam hal ini berhasil meraup elektabilitas tertinggi di angka 29,7 persen. AHY di sisi lain mengantongi 28,2 persen. Sementara Prabowo tertinggal jauh dengan margin selisih lebih dari 6 persen dari Gibran. Hal tersebut merupakan sebuah defisit elektoral yang melampaui batas kewajaran dua kali margin of error survei.

        Konstelasi ini melahirkan skenario politik yang sangat tidak menguntungkan bagi sang petahana. Deni memproyeksikan, jika kontestasi elektoral betul-betul diikuti oleh ketiga tokoh tersebut, sang presiden diprediksi akan menjadi kandidat pertama yang tersingkir dari gelanggang pertempuran.

        Dalam aturan perundang-undangan, pemenang pilpres putaran pertama mengharuskan perolehan suara mutlak lebih dari 50 persen ditambah persyaratan persebaran wilayah.  Mengingat tidak ada satu pun kandidat yang menembus batas psikologis 50 persen dalam simulasi terkait, maka pemilihan dipastikan berlanjut ke putaran kedua.

        Baca Juga: Prabowo Serukan Perlawanan usai Bursa Hancur Diserang MSCI: Kita Punya Kekuatan dan Rela Berkorban

        Ironisnya, dalam skenario ini, tiket menuju putaran final justru akan direbut oleh duet politisi muda Gibran dan AHY. Sementara Prabowo tereliminasi. Fakta ini menegaskan bahwa popularitas dan hegemoni petahana mulai pudar, digantikan oleh dahaga publik akan regenerasi kepemimpinan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: