Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Survei SMRC: Gibran Jauh Lebih Populer, Tapi Publik Lebih Suka AHY

        Survei SMRC: Gibran Jauh Lebih Populer, Tapi Publik Lebih Suka AHY Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Dalam dunia politik praktis, tingkat pengenalan atau popularitas seorang kandidat di mata publik tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat penerimaan (akseptabilitas) dan kesukaan. Fenomena paradoks reputasi ini terekam dalam hasil survei terbaru antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

        Dikutip Kamis (22/10/2026), Direktur Saiful Mujani Research and Consulting Deni Irvani mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini melakukan jajak pendapat yang digelar pada rentang 1-10 Oktober 2026. Gibran dalam hal itu mendominasi panggung pemberitaan dan jauh lebih dikenal, namun publik rupanya lebih menaruh hati dan simpati kepada AHY.

        Baca Juga: PDIP Soal Ijazah Gibran: Pejabat Tinggi Melanggar Aturan, Masa Tidak Diberi Sanksi Etik dan Moral?

        Pada kategori tingkat pengenalan murni (awareness), figur-figur petahana mendominasi puncak klasemen. Presiden Prabowo Subianto tercatat dikenal oleh 99 persen penduduk Indonesia. Wapres Gibran menyusul dengan angka popularitas yang nyaris sempurna di level 97 persen. Selanjutnya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan 92 persen, Mahfud MD 77 persen, AHY 70 persen, dan terakhir Pramono Anung dengan tingkat pengenalan 53 persen.

        Gibran dari hasil tersebut mutlak lebih populer ketimbang sosok muda lainnya yang hanya menembus 70 persen pengenalan di akar rumput.

        Namun, situasi berbalik 180 derajat ketika lembaga survei membedah sentimen kualitatif masyarakat, yakni seberapa besar persentase publik yang menaruh perasaan suka atau tidak suka terhadap para kandidat tersebut.

        Deni Irvani membongkar rasio akseptabilitas yang mengejutkan, di mana tingkat resistensi atau penolakan publik terhadap sosok wapres ternyata terlampau tinggi.

        "Gibran lebih dikenal daripada AHY. Dari 97 persen yang mengenal dia, 66 persen yang suka. 29 persennya tidak suka. Netral 5 persen," urai Deni.

        Angka resistensi 29 persen ini dinilai sebagai beban politik yang sangat berat bagi wapres untuk melakukan ekspansi elektoral ke depannya.

        AHY sebaliknya terbukti jauh lebih bisa diterima oleh masyarakat luas. Meskipun ia baru dikenal oleh 70 persen populasi, sebagian besar dari mereka yang mengenalnya langsung memberikan penilaian positif.

        "AHY tingkat kesukaan publik 77 persen. 14 persen tidak suka. Tidak punya sikap 9 persen," tutur Deni.

        Perbandingan rasio ini memberikan kesimpulan politik yang sangat gamblang. Tingginya angka ketidaksukaan (29 persen) terhadap sang wapres ditengarai merupakan akumulasi dari sentimen negatif masyarakat akibat berbagai polemik administratif dan politik yang kerap membayangi langkahnya sejak awal pencalonan.

        Baca Juga: SMRC: Sekalipun Dedi Mulyadi Batal Nyapres, Posisi Elektoral Prabowo Subianto Tetaplah Lemah

        AHY di sisi lain punya modal tingkat kesukaan 77 persen dan tingkat penolakan yang sangat rendah (14 persen). Hal itu memberikannya ruang yang sangat lebar untuk terus meroketkan elektabilitasnya seiring dengan makin luasnya kampanye pengenalan profil dirinya ke penjuru nusantara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: