Diungkap Pakar, Buku Ini Ternyata Paling Sempurna Menggambarkan Isi Kepala Prabowo
Kredit Foto: BPMI
Arah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto selama dua tahun masa pemerintahannya kerap kali memunculkan perdebatan di ruang publik. Namun, bagi para pengamat politik dan kebijakan negara, langkah-langkah pemerintah sebenarnya sangat mudah diprediksi jika publik memahami akar pemikiran dari Prabowo.
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya membongkar rahasia di balik konsistensi kebijakan tersebut. Menurutnya, Prabowo Subianto tidak sedang meraba-raba atau sekadar melakukan eksperimen birokrasi dalam memimpin Indonesia. Seluruh fondasi kebijakannya bertumpu pada keyakinan ideologis yang telah ia narasikan secara komprehensif melalui karya tulisnya.
Baca Juga: Pengamat: Kalau Dedi Mulyadi Gagal Nyapres, Basis Suaranya Akan Bermigrasi ke Gibran dan AHY
"Kalau dari sisi substansi kebijakan, dia kita baca bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya. Itu buku yang paling menggambarkan isi kepalanya," ujar Yunarto dikutip Kamis (22/10/2026).
Yunarto menjelaskan bahwa buku Paradoks Indonesia dan Solusinya bukanlah sekadar komoditas politik untuk kampanye masa lalu, melainkan manifestasi nyata dari kekhawatiran dan visi Prabowo.
Implementasi dari gagasan dalam buku tersebut kini tereksekusi secara presisi dalam kebijakan-kebijakan strategis pemerintah, yang sangat memprioritaskan kemandirian dan kekuatan domestik di atas segalanya.
"Apa yang dijalankan selama dua tahun exactly dengan apa yang dia yakini tentang membangun sebuah negara," jelas Yunarto.
Yunarto menyoroti tiga pilar utama kebijakan presiden yang paling menonjol selama 24 bulan terakhir: program ketahanan pangan skala masif, percepatan kemandirian energi nasional dan modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista). Ketiga sektor ini menjadi obsesi utama pemerintahan karena sejalan dengan tesis utama Prabowo.
Menurut Yunarto, fokus pada ketiga pilar kedaulatan tersebut merupakan resep racikan presiden untuk membebaskan negara dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Lebih dari itu, kebijakan ini dirancang untuk melepaskan belenggu ketergantungan negara terhadap pola ekonomi ekstraktif yang rapuh.
"Ketahanan pangan, ketahanan energi, alutsista dalam konteks melepaskan middle income trap, melepaskan kutukan negara tropis yang hidup hanya dari sumber daya alam," tutur Yunarto.
Baca Juga: Di Tengah Isu Keretakan, Diam-diam Hubungan Prabowo dan Jokowi Masih Layaknya 'Bestie'
Menurutnya, Prabowo ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pemimpin yang memimpin berdasarkan ideologi dan literatur pemikirannya sendiri, bukan semata-mata pragmatisme politik sesaat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: