Kredit Foto: AMMAN
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), emiten pertambangan yang terafiliasi dengan Grup Salim, mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Aksi korporasi tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada Kamis (22/10/2026), AMMN berencana membeli kembali sebanyak-banyaknya 266,84 juta saham atau sekitar 0,37% dari seluruh modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh.
Jumlah tersebut masih berada di bawah batas maksimal pembelian kembali saham sebesar 20% sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2023. Corporate Secretary AMMN Vemmy Febrianti menjelaskan bahwa pelaksanaan buyback dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Ketentuan tersebut mengacu pada relaksasi yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka menjaga stabilitas pasar modal, sebagaimana tertuang dalam surat OJK Nomor S-17/D.04/2025 tertanggal 19 Maret 2025 danS-111/D.04/2025 tertanggal 14 Oktober 2025.
Untuk menjalankan transaksi pembelian kembali saham di pasar, perseroan telah menunjuk PT BCA Sekuritas sebagai perusahaan efek yang akan melaksanakan aksi korporasi tersebut sepanjang periode yang ditentukan.
Dari sisi pendanaan, AMMN memastikan seluruh kebutuhan buyback akan menggunakan kas internal perusahaan. Perseroan tidak akan memanfaatkan dana hasil penawaran umum maupun pembiayaan yang berasal dari pinjaman atau utang.
"Dana untuk melaksanakan Pembelian Kembali Saham akan bersumber seluruhnya dari kas internal Perseroan dan tidak akan berasal dari dana hasil penawaran umum Perseroan atau dari pinjaman dan/atau utang dalam bentuk apapun," ujar Vemmy dalam keterbukaan informasi, Kamis (22/10/2026).
Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp1 triliun, termasuk biaya transaksi yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelian kembali saham.
Manajemen menilai aksi korporasi tersebut tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap pendapatan maupun kelangsungan kegiatan operasional perusahaan.
Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi modal kerja dan arus kas AMMN yang dianggap masih memadai untuk mendukung kebutuhan bisnis setelah pelaksanaan buyback.
Selain menjaga fleksibilitas keuangan, perseroan berharap pembelian kembali saham dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik bagi pemegang saham.
Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan, sehingga pergerakan harga saham AMMN dapat lebih mencerminkan kondisi fundamentalnya.
Baca Juga: Fluktuasi di Bursa, BRI Siap Buyback Saham Rp1 Triliun
Baca Juga: DSSA Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham Usai Kena Teguran OJK
Dalam simulasi keuangan proforma berdasarkan posisi 31 Desember 2025, pelaksanaan buyback diperkirakan akan mengurangi jumlah saham beredar dari sekitar 72,41 miliar menjadi 72,14 miliar saham.
Dari sisi posisi keuangan, saldo kas dan setara kas diproyeksikan turun dari US$676,8 juta menjadi US$621,4 juta setelah memperhitungkan pelaksanaan pembelian kembali saham.
Sementara itu, total aset perseroan diperkirakan berkurang dari US$13,87 miliar menjadi US$13,82 miliar. Adapun nilai ekuitas diproyeksikan turun dari US$5,43 miliar menjadi US$5,37 miliar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: