Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tukar Kepentingan, Houthi Disebut Pakai Teknologi Iran dan China hingga Bisa Jangkau Israel

        Tukar Kepentingan, Houthi Disebut Pakai Teknologi Iran dan China hingga Bisa Jangkau Israel Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kelompok Houthi di Yaman diduga berupaya meningkatkan kemampuan persenjataannya dengan merakit rudal balistik yang mengadopsi desain buatan Iran. Dugaan ini muncul setelah sejumlah komponen yang berasal dari pengiriman China disita di Yaman.

        Laporan Conflict Armament Research (CAR), lembaga penelitian berbasis di Inggris yang melacak peredaran senjata di wilayah konflik, mengungkap indikasi upaya Houthi memperkuat kemampuan produksi dan perakitan senjata secara mandiri.

        Komponen yang ditemukan disebut berpotensi digunakan untuk membuat rudal dengan desain menyerupai Kheibar Shekan buatan Iran. Rudal tersebut dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer.

        Jika pengembangan itu berhasil, kemampuan serangan Houthi berpotensi menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk Arab Saudi dan Israel. Namun, temuan komponen tersebut belum membuktikan bahwa kelompok itu telah berhasil merakit rudal secara utuh atau siap menggunakannya dalam operasi militer.

        Laporan CAR merujuk pada informasi dari otoritas pemerintah Yaman pada Juli 2026. Saat itu, aparat mencegat dua pengiriman yang memuat peralatan mencurigakan dari China.

        Pengiriman tersebut ditujukan ke Hodeidah, pelabuhan penting di Yaman yang berada di bawah kendali Houthi. Kawasan ini juga menjadi perhatian dalam penyelidikan mengenai dugaan jalur pemindahan senjata untuk kelompok tersebut.

        Komponen yang ditemukan meliputi bagian inti sirip penstabil, penutup belakang motor roket yang dilengkapi nosel, serta penyala motor roket. Barang lainnya berupa resin fenolik, material yang dapat digunakan untuk membuat pelindung panas pada rudal.

        Menurut CAR, kombinasi komponen tersebut mengarah pada dugaan bahwa Houthi berusaha merakit rudal dengan mengacu pada desain Kheibar Shekan buatan Iran.

        Meski demikian, asal komponen dari China tidak serta-merta membuktikan bahwa pemerintah Beijing menyetujui pengiriman tersebut untuk kepentingan militer Houthi. Temuan itu juga belum memastikan bahwa seluruh komponen yang dibutuhkan untuk membuat rudal telah tersedia.

        Upaya pengembangan rudal balistik jarak menengah menjadi perhatian karena senjata tersebut mampu menjangkau sasaran yang jauh dari lokasi peluncuran.

        Apabila Houthi berhasil mengembangkan rudal dengan kemampuan menyerupai Kheibar Shekan, wilayah Arab Saudi dan Israel berpotensi masuk dalam jangkauan serangannya.

        Namun, jarak jangkau tidak otomatis menunjukkan tingkat akurasi, jumlah rudal yang dimiliki, maupun kemampuan senjata menembus sistem pertahanan udara lawan.

        Dalam perkembangannya, Houthi telah memperluas kemampuan menggunakan dan merakit persenjataan, termasuk rudal dan pesawat nirawak atau drone. Kelompok tersebut sebelumnya dikenal menggunakan berbagai senjata lama, termasuk persenjataan peninggalan era Soviet dan Korea Utara.

        Iran selama ini disebut sebagai salah satu pemasok penting senjata, komponen, dan teknologi bagi Houthi. Temuan terbaru mengindikasikan bahwa jaringan pengadaan komponen kelompok tersebut mungkin semakin beragam.

        Jika terbukti, pengadaan komponen dari berbagai sumber dapat mengurangi ketergantungan Houthi pada satu jalur pasokan. Pengiriman secara terpisah juga berpotensi mempersulit pengawasan peredaran senjata.

        Dugaan keterkaitan komponen asal China dengan pengembangan rudal Houthi turut memunculkan pertanyaan mengenai kepentingan Beijing di kawasan Timur Tengah.

        Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keamanan pelayaran di Laut Merah. Jalur tersebut terhubung dengan Terusan Suez dan berperan penting dalam perdagangan antara Asia dan Eropa.

        Gangguan pelayaran di kawasan itu dapat meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu perjalanan, serta mengganggu rantai pasok internasional. Sebagai negara dengan aktivitas perdagangan global yang besar, China memiliki kepentingan terhadap kelancaran jalur tersebut.

        Materi yang dikutip dari Roya News menyebut para analis menyoroti kemungkinan Houthi memberikan jaminan agar kapal dagang China dapat melintasi Laut Merah tanpa gangguan.

        Baca Juga: AS Tarik Sebagian Staf Kedutaan dari Arab Saudi Usai Serangan Houthi

        Jika benar, jaminan tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi Beijing di tengah meningkatnya risiko keamanan pelayaran.

        Namun, belum ada bukti yang memastikan bahwa jaminan keamanan bagi kapal China merupakan imbalan langsung atas pengiriman komponen rudal. Dugaan hubungan antara pasokan komponen dan kelancaran pelayaran masih perlu dibedakan dari fakta penyitaan barang di Yaman.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: