Kredit Foto: Istock photo
Hubungan Indonesia dan Singapura belakangan ini tengah diuji oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari merebaknya isu konspirasi ekonomi global hingga ketegangan yang dipicu oleh bencana asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dikutip Jumat (23/10/2026) Eks Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dino Patti Djalal memberikan peringatan keras agar hal tersebut tak semakin meruncing. Ia menegaskan bahwa merusak hubungan baik dengan negara tetangga terdekat adalah sebuah blunder diplomatik yang pantang dilakukan oleh negara sebesar Indonesia.
Baca Juga: Sentilan Prabowo Cari Dedi Mulyadi di Rakornas TPAKD 2026: Paling Dekat Kok Malah Enggak Hadir
Dino membeberkan rekam jejak panjang bagaimana kedua negara ini saling menopang di saat-saat krisis. Ia mengingatkan kembali ingatan kolektif bangsa bahwa sejarah telah membuktikan kepedulian nyata dari Singapura. Mereka selalu menjadi salah satu negara pertama yang mengulurkan tangan ketika kita tertimpa musibah, mulai dari bencana tsunami, gempa bumi, krisis moneter hingga pandemi COVID-19.
Tidak hanya dalam urusan kemanusiaan, mereka juga berperan vital sebagai mitra pembangunan ekonomi, mulai dari sektor investasi, pendidikan, pengembangan kawasan industri dari Batam, Bintan, Karimun, hingga Kendal di Jawa Tengah.
"Karena itu, sebagai negara kecil, hukumnya tabu dan haram bagi elite politik merekauntuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi kita untuk mencelakai Singapura," ujar Dino dikutip Jumat (23/10/2026).
Dino, alih-alih bermusuhan, mendorong pemerintah untuk menjadikan dinamika ini sebagai ajang pembuktian kepemimpinan regional. Secara khusus, ia menyoroti persoalan kabut asap karhutla dari wilayah tanah air yang saat ini menyelimuti langit Singapura.
Menurutnya, masalah karhutla tidak boleh disikapi dengan retorika konfrontatif atau ego sektoral, melainkan harus diselesaikan melalui diplomasi yang bijak, dewasa dan penuh tanggung jawab.
"Bagaimana Indonesia bisa terus bertetangga dengan baik dalam situasi sulit, dan bagaimana kita sebagai negara yang dianggap sebagai pemimpin natural di kawasan bisa menangani krisis asap ini dengan cara yang semakin mengukuhkan kebesaran kita, bukan kekerdilan," tegasnya.
Dino mencontohkan keberhasilan diplomasi saat menangani krisis Tsunami Aceh dan Nias di 2004. Saat itu, Indonesia membuka diri dan sukses mengoordinasikan kerja sama kemanusiaan dengan negara-negara tetangga dan dunia internasional tanpa kehilangan kedaulatannya sedikit pun.
Baca Juga: Pengakuan Jubir PSI: Belum Pernah Lihat Ijazah Asli Jokowi, Hanya Dengar Cerita dari Temannya di UGM
"Akibatnya, respek dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia semakin tinggi," tutur Dino.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: