FBI Peringatkan Serangan PHP2Shell, Server Website Global Terancam Diretas
Kredit Foto: Ist
Dua kerentanan keamanan yang dikenal dengan nama PHP2Shell memicu peringatan dari sejumlah lembaga keamanan siber internasional setelah ditemukan potensi eksploitasi terhadap server yang menjalankan perangkat lunak berbasis PHP.
Celah tersebut memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh. Jika berhasil dieksploitasi, pelaku berpotensi mengambil alih server, mengakses basis data, hingga mencuri informasi sensitif tanpa perlu memiliki akses resmi ke sistem.
PHP merupakan bahasa pemrograman yang banyak digunakan untuk membangun situs web, termasuk portal berita, toko daring, dan layanan pemerintahan. Kerentanan pada perangkat lunak yang menopang layanan tersebut dapat meningkatkan risiko keamanan bagi pengelola situs maupun pengguna.
Melansir CNBC International, sejumlah otoritas keamanan dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Singapura, Australia, Kanada, dan Uni Eropa dilaporkan telah mengeluarkan peringatan terkait ancaman tersebut.
Badan Keamanan Nasional AS (NSA) bahkan menyarankan agar sistem yang belum mendapatkan pembaruan keamanan diputus sementara dari jaringan apabila diperlukan untuk mengurangi risiko serangan.
Sementara itu, Biro Investigasi Federal AS (FBI) memperingatkan adanya indikasi bahwa pelaku kejahatan siber telah berupaya mengeksploitasi kerentanan tersebut sebelum informasi mengenai celah itu diumumkan secara luas.
Amazon juga mengonfirmasi bahwa tim intelijen ancamannya telah mendeteksi upaya peretasan sebelum pengungkapan resmi. Namun, belum diketahui bagaimana pelaku dapat mengetahui keberadaan kerentanan tersebut lebih awal.
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) turut dimanfaatkan dalam proses identifikasi dan penanganan celah keamanan PHP2Shell.
Google menyatakan menggunakan model AI dalam rangkaian proses untuk menemukan kerentanan, melakukan investigasi, serta menguji perbaikan yang disiapkan.
OpenAI juga menyebut tim penelitinya berkontribusi dalam penemuan kelemahan tersebut. Selama sekitar dua bulan sebelum pengumuman resmi, perusahaan itu turut mengoordinasikan pengembang perangkat lunak, peneliti keamanan, dan penyedia layanan untuk mendukung penanganan kerentanan.
Di sisi perlindungan jaringan, Cloudflare telah menerapkan langkah pengamanan tambahan untuk memblokir permintaan berbahaya yang berpotensi memanfaatkan celah tersebut.
Keterlibatan sejumlah perusahaan teknologi ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara pengembang perangkat lunak, peneliti keamanan, dan penyedia infrastruktur digital dalam merespons ancaman siber.
Tim pengembang PHP telah merilis pembaruan untuk memperbaiki kerentanan tersebut. Pengelola situs web dan administrator sistem disarankan segera memeriksa versi PHP yang digunakan dan memasang pembaruan keamanan yang sesuai.
Baca Juga: ITSEC Asia Ekspansi ke Afrika, Gandeng Perusahaan Pantai Gading Garap Keamanan Siber
Baca Juga: Mengapa Bank Masih Jadi Sasaran Empuk Serangan Siber? Ini Kata ITSEC
Apabila pembaruan belum dapat diterapkan, pengelola sistem perlu membatasi akses ke server serta meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas yang tidak biasa.
Untuk sistem dengan tingkat kepentingan tinggi yang belum dapat diamankan, pemutusan sementara dari jaringan dapat dipertimbangkan guna mengurangi kemungkinan eksploitasi.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat eksploitasi kerentanan dapat membuka jalan bagi akses tidak sah ke server dan data yang tersimpan di dalamnya. Pengelola sistem perlu memastikan pembaruan telah diterapkan dan memeriksa kemungkinan adanya aktivitas mencurigakan, terutama jika sistem sempat terpapar sebelum perbaikan tersedia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: