Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Kemacetan, keterbatasan transportasi massal, dan persoalan sampah menjadi tantangan yang perlu diatasi Kota Bandung untuk menjaga daya saingnya sebagai pusat pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Kolaborasi antara pemerintah dan kalangan profesional dinilai dapat membuka peluang lahirnya solusi yang mendukung pertumbuhan ekonomi perkotaan.
Ketua Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 1986, Adrian Tisna, mengatakan pihaknya siap menjadi mitra bagi Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memberikan masukan terkait berbagai persoalan perkotaan.
Menurutnya, alumni ITB Angkatan 1986 tidak memosisikan diri sebagai pihak yang paling mengetahui seluruh persoalan, tetapi sebagai mitra yang terbuka untuk berdiskusi dan merumuskan solusi bersama pemerintah.
"Para alumni bukan pihak yang paling tahu, melainkan mitra terbuka bagi Pemkot Bandung dan pemerintah provinsi untuk merumuskan solusi bersama," ujar Adrian, di sela-sela Reuni Akbar 40 Tahun Alumni ITB Angkatan 1986, Minggu (25/10/2026).
Adrian mengatakan, jejaring alumni memiliki keahlian yang beragam, mulai dari teknik sipil, transportasi, tata kota, hingga industri kreatif. Kompetensi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memberikan masukan teknis maupun gagasan pengembangan kota.
Salah satu peluang yang disoroti adalah penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melalui pengembangan atraksi visual, termasuk rencana video mapping di Kota Bandung.Pengembangan atraksi wisata berbasis teknologi dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya pengalaman wisatawan.
"Namun, implementasinya memerlukan perencanaan yang terintegrasi dengan penataan ruang, infrastruktur pendukung, serta pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan sekitarnya,"ungkapynya
Ketua Panitia Reuni Akbar ITB Angkatan 1986, Batara Purba, mengatakan kekuatan utama angkatannya terletak pada jejaring lintas sektor dan kemampuan menghimpun berbagai keahlian untuk kepentingan bersama.
Jejaring tersebut mencakup kalangan birokrat, pimpinan badan usaha milik negara (BUMN), akademisi, profesional swasta, hingga tokoh yang berkiprah di tingkat nasional.
Menurut Batara, kolaborasi menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan karena setiap pihak memiliki kompetensi dan peran yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan pembangunan.
"Kolaborasi adalah modal kekuatan terbesar bangsa. Kalau kita berpecah, kapan kita akan maju? Tapi kalau kita berkolaborasi, saling tahu posisi masing-masing dan apa yang harus dikerjakan, insyaallah siapapun pemimpinnya, kita akan menjadi lebih baik," ujar Batara.
Semangat tersebut diangkat melalui tema reuni, yakni "Reuni Akbar ITB 86, 40 Tahun untuk ITB, untuk Bandung, untuk Indonesia".
Melalui tema tersebut, alumni ingin menegaskan bahwa kontribusi kepada almamater dan masyarakat tidak berhenti pada kegiatan reuni, tetapi dapat berlanjut melalui pertukaran gagasan, penguatan jejaring profesional, dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Selain membuka peluang kolaborasi dalam pembangunan kota, Alumni ITB Angkatan 1986 juga memiliki rekam jejak kegiatan pengabdian di bidang pendidikan dan sosial.
Sejumlah program yang telah dijalankan antara lain penyaluran beasiswa secara rutin bagi mahasiswa dan keluarga besar alumni, pembangunan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta penyediaan posko bantuan kemanusiaan setelah gempa bumi di Lombok.
Di bidang teknologi, para alumni turut mendorong peningkatan kapasitas infrastruktur jaringan internet di lingkungan ITB melalui dukungan jejaring perusahaan dan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Penguatan infrastruktur digital di lingkungan pendidikan memiliki relevansi dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia. Akses internet dan fasilitas pembelajaran yang memadai dapat mendukung proses pendidikan, penelitian, serta pengembangan kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha.
Alumni ITB Angkatan 1986 juga menjadi inisiator Kejuaraan Catur Nasional Antarpelajar. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan ruang bagi generasi muda dalam mengembangkan kemampuan sekaligus membuka peluang apresiasi bagi talenta berprestasi yang ingin melanjutkan pendidikan di ITB.
Baca Juga: Potensi Mineral dan Migas Papua Jadi Akselerator Pembangunan, IA-ITB Soroti Kesenjangan IPM
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat menjangkau berbagai bidang, mulai dari pendidikan, teknologi, hingga pengembangan potensi generasi muda.
Alumni ITB Angkatan 1986 menghimpun sekitar 1.500 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memiliki latar belakang pendidikan dari lima fakultas, yakni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Fakultas Teknologi Mineral (FTM), serta Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).Keragaman disiplin ilmu tersebut menjadi salah satu modal untuk membangun kerja sama lintas keahlian.
Bagi Bandung, keterlibatan kalangan profesional dapat menjadi sumber masukan dalam menyusun alternatif kebijakan pembangunan. Meski demikian, penerapan setiap gagasan tetap memerlukan kajian kelayakan, koordinasi dengan pemerintah, serta penyesuaian terhadap kebutuhan dan kemampuan anggaran daerah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: