PDIP Jadikan Pengkhianatan Jokowi dan Keluarganya Sebagai 'Case Study' di Sekolah Partai
Kredit Foto: Website DPR RI
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melontarkan balasan yang sangat tajam menyikapi tudingan dari kelompok relawan dari Eks Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pihaknya menegaskan sudah move on dari Solo.
Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus mengatakan bahwa mantan presiden tersebut kini tak lebih dari sekadar materi pembelajaran atau studi kasus (case study) tentang sebuah pengkhianatan politik bagi para kader muda partai berlambang banteng tersebut.
Baca Juga: Jawab Teka-teki Elite Politik, Ini Bocoran Ahmad Ali Soal Peluang Jokowi Turun Gunung Jadi Ketum PSI
Deddy Sitorus secara mutlak menepis anggapan bahwa partainya masih membeku pada kontestasi politik masa lalu. Ia menegaskan bahwa politikus itu tidak lagi memiliki relevansi dalam peta jalan politik partai ke depan.
“PDI Perjuangan sudah lama move on dari urusan pilpres. Jokowi dan keluarganya sudah lama dipecat dari keanggotaan PDI Perjuangan. Jokowi dan keluarganya tidak pernah sekalipun jadi bahan diskusi internal, kecuali dalam sekolah partai di mana kasus pengkhianatan mereka dijadikan bahan case study bagi kader-kader muda,” ujar Deddy Sitorus dikutip Senin (26/10/2026).
Menjadikan manuver politik yang pernah dilakukan eks kadernya itu sebagai "bahan studi kasus pengkhianatan" merupakan cara partai tersebut untuk mendidik basis akar rumputnya agar lebih waspada terhadap figur-figur karbitan yang lahir dari rahim partai namun berbalik menyerang instruksi ideologis.
Deddy menegaskan bahwa agenda partainya saat ini sepenuhnya berfokus pada persiapan kontestasi elektoral mendatang, bukan meratapi masa lalu.
“Pilpres sudah lama berlalu, pilpres berikutnya sudah di depan mata,,” kata Deddy.
Sebelumnya Ketua Umum Relawan Militan Gibran 08 Nusantara mengklaim bahwa segala evaluasi kritis yang dialamatkan kepada pemerintahan, khususnya menyangkut polemik ijazah wakil presiden, berakar dari kebencian PDIP.
“Kita paham kalau kita bicara mereka pasti sangat membenci Pak Jokowi dan Mas Gibran. Jadi kalau dikatakan selama ini bahwa itu akan memberikan beban kepada pemerintahan, dia salah besar ini, gitu,” kata Andi Azwan.
Baca Juga: Tugaskan Komisi I, Anak Buah Prabowo Akan Bongkar Pertemuan Tokoh Antipemerintah dan Dubes Singapura
“Ya kan sejarahnya ini kan kita bicara ini bukan dikatakan bahwa itu oleh Presiden. Ini kan paslon, pasangan, paket. Dia mesti paham juga. Janganlah menggiring opini publik untuk menyesatkan hal tersebut," tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar