Kredit Foto: Ist
Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menyoroti tajam krisis bencana asap yang melanda sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Riau, Sumatera Selatan, hingga Papua.
Ia menolak anggapan bahwa gelombang panas dan kepungan asap tersebut murni disebabkan oleh faktor alam semata.
Tiyo menegaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi bukan sekadar dampak fenomena cuaca seperti El Nino atau musim kemarau, melainkan hasil dari tindakan manusia yang sengaja membakar hutan.
Tiyo menolak penggunaan istilah "kebakaran hutan" dan lebih memilih menyebutnya sebagai "pembakaran hutan" yang didasari oleh kepentingan segelintir pihak.
"Saya tidak setuju dengan istilah kebakaran hutan, tapi pembakaran hutan itu. Kita dibakar. Omong kosong bencana alam, omong kosong alam yang menghendaki itu. Kita ada keserakahan yang bercumbu dengan kesombongan," ujar Tiyo dalam pengajian Maiyah Cak Nun.
Ia juga menyinggung data dari NASA yang mencatat tingginya emisi karbon dioksida akibat aktivitas pembakaran hutan tersebut. Menurutnya, kondisi panas ekstrem dan pencemaran udara yang parah dipicu oleh akumulasi emisi serta polusi asap dari berbagai titik.
Dalam keterangannya, Tiyo menilai ada sikap acuh dan kesombongan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab sehingga tidak segera menyadari dampak buruk yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Ia menjelaskan alasan penggunaan tajuk tajam dalam menyikapi krisis ekologis yang tengah terjadi di Indonesia saat ini.
"Makanya kita ambil judul 'Astagfirullah Indonesia' itu sebenarnya untuk memperhalus bahasa saja, aslinya itu 'Astagfirullah Prabowo'," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: