Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ade Armando Ungkap Skenario Jika Gibran Dimakzulkan, 'Jokowi-Gibran Dapat Simpati Seperti SBY, Suara PSI Melonjak 24 Persen!'

        Ade Armando Ungkap Skenario Jika Gibran Dimakzulkan, 'Jokowi-Gibran Dapat Simpati Seperti SBY, Suara PSI Melonjak 24 Persen!' Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Politikus sekaligus loyalis Jokowi-Gibran, Ade Armando, menyatakan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada dasarnya tidak terlalu ambil pusing terkait berlanjutnya polemik ijazah SMA yang menerpanya.

        Ade menilai bahwa sejak awal Gibran tidak memiliki ambisi berlebih untuk menduduki jabatan wakil presiden. Menurutnya, jika situasi menuntut Gibran untuk mundur, hal tersebut tidak akan menjadi masalah bagi yang bersangkutan.

        "Gibran tuh sejak awal tak kepengin-kepengin banget jadi wakil presiden kan. Sekarang dibilang berhenti nih, ya sudah tak apa-apa gue berhenti. Saya berhenti, saya mundur, saya akan konsentrasi misalnya untuk bantu adik saya Kaesang di PSI," ujar Ade.

        Meski demikian, Ade mengingatkan pihak-pihak yang mendorong pemakzulan atau pengunduran diri Gibran untuk memperhitungkan dampak politik jangka panjang.

        Menurutnya, skenario mundurnya Gibran justru berpotensi memicu keguncangan di pemerintahan serta melahirkan gelombang simpati publik (sympathy vote) kepada Gibran dan Joko Widodo.

        Ade bahkan menyamakan potensi dinamika ini dengan lonjakan dukungan politik yang pernah dialami Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang Pemilu 2004.

        "Rakyat akan bersimpati pada Gibran, pada Jokowi. Terzalimi lagi ya. Bayangkan tambahan suara yang akan diperoleh, ingat waktu SBY zaman Megawati? Persis dizalimi, suara SBY loncat kan. PSI suaranya di Pemilu nanti akan seperti Partai Demokrat dulu, sekitar 24 persen," tegas Ade.

        Lebih lanjut, Ade menilai narasi pemakzulan terhadap Gibran justru dapat berbalik merugikan citra Presiden Prabowo Subianto maupun Partai Gerindra serta pihak-pihak yang dianggap berada di balik gerakan tersebut.

        Ia mengibaratkan upaya penyingkiran partner politik di tengah jalan sebagai tindakan yang tidak etis dalam berpolitik.

        "Siapapun yang berada di belakang upaya memakzulkan Gibran ini akan buruk. Kalau kata orang Melayu, menusuk kawan seiring," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: