Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saham BCA Jadi Pemberat IHSG, Sahamnya Sudah Anjlok Hampir 39% Tahun Ini

        Saham BCA Jadi Pemberat IHSG, Sahamnya Sudah Anjlok Hampir 39% Tahun Ini Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (26/10/2026). Saham BBCA ditutup turun 1,69% ke level Rp4.940 per saham, ketika investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,85 triliun di pasar saham domestik.

        Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 66,164 poin atau 1,22% ke level 5.373,094. Sementara itu, BBCA mencatatkan kontribusi negatif sebesar 7,74 poin terhadap IHSG pada perdagangan hari ini.

        Tekanan terhadap saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut menambah koreksi harga yang telah mencapai 38,82% sejak awal 2026. Dalam daftar top laggards BEI, BBCA mencatat kontribusi negatif terbesar terhadap IHSG secara year-to-date (YTD), yakni 295,15 poin.

        Pada perdagangan Senin, saham BBCA turun Rp85 dari penutupan sebelumnya di Rp5.025. Saham tersebut bergerak pada rentang Rp4.940 hingga Rp5.075 dan berakhir di level terendah hariannya.

        Tekanan pasar juga terlihat dari transaksi investor asing. Statistik BEI mencatat investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,85 triliun pada perdagangan Senin. Nilai tersebut berasal dari transaksi beli asing sekitar Rp4,79 triliun dan jual sekitar Rp6,64 triliun. Sebaliknya, investor domestik mencatat pembelian sekitar Rp10,20 triliun dan penjualan Rp8,34 triliun. 

        Secara kumulatif sejak awal tahun, jual bersih investor asing mencapai Rp96,72 triliun. Angka ini menunjukkan tekanan arus dana asing yang berlangsung sepanjang 2026.

        Aktivitas perdagangan saham di BEI pada Senin mencapai nilai sekitar Rp14,98 triliun dengan volume 36,13 miliar saham. Di tengah transaksi tersebut, BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, sekitar Rp1,82 triliun, sekaligus mencatat frekuensi perdagangan tertinggi, yakni sekitar 73.953 kali.

        Koreksi BBCA Lebih Dalam dari BBRI dan BMRI

        Kinerja saham BBCA sepanjang tahun juga tertinggal dibandingkan dua bank besar lainnya. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 20,49% sejak awal tahun, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 23,33%.

        Pada perdagangan Senin, pergerakan ketiga saham tersebut berbeda. BBRI ditutup stagnan di level Rp2.910 per saham, sedangkan BMRI menguat 0,26% ke Rp3.910 per saham. BBCA justru melemah 1,69%.

        Dari sisi kapitalisasi pasar, BBCA masih menempati posisi terbesar di BEI dengan nilai sekitar Rp603 triliun. BBRI berada di posisi berikutnya dengan kapitalisasi pasar Rp437 triliun, disusul BMRI sebesar Rp361 triliun.

        Besarnya kapitalisasi pasar BBCA membuat pergerakan sahamnya relevan terhadap dinamika IHSG. Namun, data BEI memperlihatkan tekanan pada BBCA berlangsung bersamaan dengan pelemahan pasar dan jual bersih investor asing. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: