Kredit Foto: Dok. BPMI
Pasar keuangan Brasil mengalami tekanan tajam setelah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden. Kemenangan tersebut memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham, mata uang, hingga obligasi pemerintah pada perdagangan Senin (26/10/2026).
Mengutip Reuters, mata uang real Brasil sempat melemah hampir 12% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan spot. Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham Bovespa merosot hampir 15% di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintahan Lula.
Tekanan juga menyebabkan operator bursa Brasil, B3, menghentikan sementara perdagangan saham selama 30 menit setelah indeks acuan Bovespa anjlok 10% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penghentian perdagangan tersebut dilakukan melalui mekanisme circuit breaker, yang diberlakukan untuk meredam volatilitas ekstrem di pasar saham.
Sebelum penghentian perdagangan, B3 telah memperlebar batas pergerakan harian kontrak berjangka indeks Bovespa, dolar AS, dan suku bunga sebagai respons terhadap gejolak pasar.
Aksi jual tidak hanya terjadi di pasar saham. Obligasi pemerintah Brasil juga mengalami tekanan, terutama surat utang dengan tenor panjang.
Harga obligasi pemerintah Brasil yang jatuh tempo pada 2056 tercatat turun sekitar 2,5 sen, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pembiayaan negara tersebut.
Sementara itu, risiko kredit pemerintah Brasil turut meningkat. Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, credit default swaps (CDS) Brasil tenor lima tahun naik menjadi 151,67 basis poin dari posisi 120,21 basis poin pada penutupan Jumat sebelumnya.
Kenaikan CDS tersebut menunjukkan meningkatnya biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar utang pemerintah Brasil.
Di tengah tekanan pasar, Kementerian Keuangan Brasil membatalkan lelang rutin obligasi pemerintah berbasis inflasi yang semula dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.
Pemerintah juga membatalkan lelang obligasi berbunga tetap yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Oktober 2026.
Gejolak pasar turut memengaruhi komoditas ekspor Brasil. Harga gula mentah tercatat merosot hampir 5% di tengah pelemahan tajam mata uang real.
Sentimen Investor Berbalik Usai Lula Menang
Tekanan terhadap aset keuangan Brasil terjadi setelah hasil pemilihan presiden berbalik dari ekspektasi sebagian pelaku pasar.
Sebelumnya, investor memperkirakan kemenangan Senator Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, setelah kandidat tersebut unggul pada putaran pertama pemilihan presiden.
Ekspektasi tersebut sempat mendorong penguatan pasar saham dan mata uang Brasil sepanjang Oktober 2026.
Pada penutupan Jumat (23/10/2026), indeks Bovespa tercatat hampir 7% lebih tinggi dibandingkan posisinya sebelum putaran pertama pemilihan presiden.
Dalam periode yang sama, real Brasil juga menguat hampir 5% terhadap dolar AS.
Investor sebelumnya memperkirakan pemerintahan Bolsonaro akan menerapkan kebijakan fiskal yang lebih ketat sehingga membuka peluang penurunan biaya pinjaman.
Optimisme tersebut turut tercermin pada pasar prediksi Kalshi yang pada Jumat memperkirakan peluang kemenangan Bolsonaro melampaui 75%.
Namun, hasil pemilihan putaran kedua justru memastikan kemenangan Lula dan membalikkan sentimen investor.
Ketidakpastian politik sempat meningkat setelah Flavio Bolsonaro menolak mengakui kekalahan dan menyatakan akan mengupayakan pembatalan hasil pemilihan.
Ahli strategi ING di London, Chris Turner, menilai sikap Bolsonaro terhadap hasil pemilihan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Menurut Turner, investor akan mencermati seberapa cepat Bolsonaro menerima hasil pemilu atau setidaknya membiarkan proses konstitusional berjalan sebagaimana mestinya.
Perkembangan politik tersebut menjadi perhatian karena ketidakpastian mengenai proses transisi pemerintahan dapat memperbesar tekanan terhadap aset keuangan Brasil.
Investor Soroti Menteri Keuangan dan Risiko Utang
Setelah kemenangan Lula, perhatian investor beralih pada susunan kabinet ekonomi, terutama sosok yang akan ditunjuk sebagai menteri keuangan.
Penunjukan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran awal mengenai arah kebijakan fiskal pemerintahan berikutnya.
Graham Stock dari RBC BlueBay Asset Management mengatakan, pasar membutuhkan sinyal yang jelas mengenai komitmen pemerintahan Lula terhadap disiplin fiskal.
Menurutnya, penunjukan menteri keuangan dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai arah kebijakan ekonomi Brasil.
Pemerintahan Lula menghadapi tantangan untuk menekan pertumbuhan utang negara tanpa mengorbankan program sosial dan investasi pemerintah.
Di satu sisi, pemerintah perlu mempertahankan dukungan terhadap masyarakat dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, investor menuntut langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan fiskal.
Manajer portofolio Vontobel Asset Management, Thierry Larose, menilai pemerintahan Lula tetap perlu menjalankan konsolidasi fiskal untuk memperbaiki kondisi keuangan negara.
Namun, ia menyebut sebagian investor masih meragukan apakah langkah tersebut akan cukup untuk mengembalikan keberlanjutan utang Brasil.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan potensi peningkatan biaya pinjaman apabila pemerintah tidak mampu memberikan kepastian mengenai pengendalian anggaran.
Kenaikan biaya pinjaman dapat memperbesar beban pembayaran bunga utang pemerintah sekaligus meningkatkan biaya kredit bagi perusahaan dan rumah tangga.
Kepala investasi pasar berkembang UBS Global Wealth Management, Alejo Czerwonko, mengatakan investor membutuhkan komitmen disiplin fiskal yang jelas dan kredibel.
Menurutnya, penguatan pasar yang terjadi setelah putaran pertama pemilihan presiden berpotensi terkoreksi, sementara sentimen investor dapat tetap tertekan hingga pemerintah menyampaikan rencana fiskal yang lebih terperinci.
Baca Juga: BEI Rombak LQ45, IDX30, IDX80, Puluhan Saham HSC Keluar IHSG
Baca Juga: Saham HSC Keluar dari IHSG, BEI: Market Cap Tak Berkurang!
Pelaku pasar juga menyoroti perlunya pengendalian belanja pemerintah dan langkah yang dapat dipercaya untuk menstabilkan utang publik.
Di tengah tekanan tersebut, tim Lula menargetkan surplus anggaran sekitar 1,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2030.
Target tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kebutuhan pembiayaan baru sekaligus memberikan ruang bagi pemerintah untuk memenuhi sebagian kewajiban pembayaran bunga utang.
Meski demikian, Kepala Riset Meridian 1305 Capital Divya Singaravelu menilai rencana pengurangan belanja yang disampaikan Lula masih membutuhkan penjelasan lebih terperinci mengenai implementasinya.
Menurutnya, kejelasan langkah penghematan anggaran menjadi penting untuk menilai kemampuan pemerintah dalam mencapai target fiskal tersebut.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati keputusan Lula dalam menentukan menteri keuangan, menyusun kebijakan anggaran, serta menjalankan strategi pengendalian utang publik.
Kejelasan kebijakan fiskal dan perkembangan situasi politik setelah pemilihan presiden akan menjadi faktor penting bagi pergerakan pasar saham, nilai tukar real, dan obligasi pemerintah Brasil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: