Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gara-Gara Putusan Sakti Ini, Prabowo dan Jokowi Pilih Ambil Jalan Masing-Masing Jelang 2029!

        Gara-Gara Putusan Sakti Ini, Prabowo dan Jokowi Pilih Ambil Jalan Masing-Masing Jelang 2029! Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat politik Hendri Satrio atau Hensat menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi menjadi titik balik hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dengan kubu Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, keputusan tersebut justru bisa menjadi alasan bagi kedua kubu untuk menempuh jalan berbeda pada Pemilu 2029.

        "Keputusan MK bukan beban bagi Prabowo ataupun Gibran/Jokowi, keputusan MK justru dapat jadi solusi, alasan, jalan keluar bila mereka ingin berpisah jalan di 2029," ujar Hensat kepada wartawan, Sabtu (24/10/2026).

        Ia menggambarkan kemungkinan perpisahan itu sebagai pilihan politik ketika masing-masing pihak merasa tidak lagi memperoleh dukungan yang diharapkan. "Alasannya simpel saja. Anda enggak mau lindungi saya, saya juga punya jalan sendiri. Ya sudah, kita pisah saja," sambungnya.

        MK sebelumnya membacakan putusan terkait polemik tersebut pada Selasa (6/10/2026). Dalam amar putusan, permohonan dinyatakan tidak dapat diterima sehingga tidak berujung pada diskualifikasi Gibran, sementara pertimbangan hakim menyinggung persoalan pembuktian ijazah setara SMA dan pemeriksaan persyaratan administrasi oleh KPU.

        Hensat menilai kemungkinan perbedaan jalan politik Prabowo dan kubu Jokowi-Gibran juga dapat dibaca dari sejumlah perkembangan belakangan ini. Ia menyoroti perubahan pernyataan Jokowi mengenai peluang dua periode Prabowo-Gibran, keanggotaan Jokowi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI), serta aktivitas politik yang dinilainya mulai mengarah pada persiapan kompetisi 2029.

        Menurut Hensat, keputusan Jokowi bergabung dengan PSI menjadi sinyal bahwa persiapan politik menuju pemilu mulai dipanaskan. Ia menilai partai-partai lain kemungkinan membaca langkah tersebut sebagai indikasi kesiapan Jokowi dari sisi jaringan pendukung dan logistik.

        "Semua partai politik yang memahami seorang Jokowi pasti memahami, oh, dia memanaskan mesin. Logistiknya sudah siap, akar rumput juga sudah bersatu. Jangan-jangan memang Pak Jokowi yang logistiknya paling siap hari ini," tutur Hensat.

        Di sisi lain, Hensat melihat aktivitas blusukan Gibran sebagai upaya membangun popularitas dan elektabilitas. Ia menilai pola tersebut memiliki kemiripan dengan gaya politik Jokowi, sementara Prabowo dinilai sedang menghitung langkahnya sendiri dalam menghadapi dinamika politik mendatang.

        Baca Juga: Niat Jatuhkan Lewat DPR, Pengamat Justru Sebut Isu Suket Gak Ngefek Buat Gibran dan Jokowi

        "Mas Gibran jalan-jalan, salaman-salaman. Mas Gibran itu kalau salaman, blusukan, keuntungannya dua. Yang pertama, popularitas dan elektabilitasnya naik. Yang kedua, dia dapat pahala karena nurut bapaknya, karena bapaknya jalan-jalan," jelasnya.

        Hensat menyimpulkan bahwa Prabowo dan Jokowi sama-sama berpotensi membangun jalur politik masing-masing. Namun, ia menegaskan belum dapat dipastikan apakah kedua tokoh tersebut nantinya akan kembali bertemu dalam satu kepentingan politik atau justru berpisah sepenuhnya pada 2029.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Bagikan Artikel: