Menguji Kehebatan Jokowi Jika Jadi Ketum PSI Usai Tak Lagi Jadi Presiden, Apa Masih Sakti Mandraguna?
Kredit Foto: Istimewa
Pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno menilai wacana mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan menjadi ajang pembuktian sisa pengaruh politiknya atau kesaktiannya pasca tak lagi jadi presiden.
Ujian utama bagi Jokowi pasca-lengser dari kursi kepresidenan dan keluar dari PDI Perjuangan adalah kemampuannya dalam mendongkrak suara dan membawa PSI lolos ke parlemen.
Menurut Adi, dorongan internal dari PSI yang menginginkan Jokowi menduduki kursi Ketua Umum membuka arena pertarungan politik baru.
Ia menyebut para pendukung setia Jokowi selama ini meyakini tokoh tersebut masih memiliki magnet elektoral yang kuat, namun asumsi tersebut kini membutuhkan pembuktian nyata di lapangan.
"Apakah Jokowi masih sakti mandraguna sekalipun sudah tidak lagi menjadi presiden? Ini semacam pembuktian secara politik. Apakah Jokowi masih sakti sekalipun tidak lagi menjadi bagian dari PDIP," ujar Adi melalui tayangan di kanal YouTube pribadinya pada Selasa (27/10/2026).
Adi menegaskan bahwa tantangan pembuktian politik ini akan tetap berlaku meskipun pada akhirnya Jokowi hanya menempati posisi Ketua Dewan Pembina PSI, bukan Ketua Umum.
Ia menilai indikator utama keberhasilan politik Jokowi ke depan tidak terletak pada jabatan struktural yang diemban, melainkan pada kemampuannya mengonversi dukungan simpatisan menjadi suara nyata bagi PSI.
Mampu atau tidaknya mesin politik Jokowi mendorong partai tersebut menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) akan menjadi tolok ukur utama bagi pengaruh politiknya di masa mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat