Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Mungkin Jokowi Bertanya-tanya, Kok Saya Gak Diajak Ngomong Ya? Padahal Bantu Menangkan Pak Prabowo'

        'Mungkin Jokowi Bertanya-tanya, Kok Saya Gak Diajak Ngomong Ya? Padahal Bantu Menangkan Pak Prabowo' Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kemesraan Eks Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto, disinyalir mulai mengalami keretakan di balik layar. Gabungnya Jokowi ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan sekadar deklarasi biasa, apalagi deklarasinya di Bandung, Jawa Barat.

        Pengamat Politik Hendri Satrio menganalisis bahwa langkah berani tersebut dipicu oleh rasa kecewa dan amarah mantan presiden itu yang merasa diisolasi dari lingkar inti kekuasaan, terutama menyangkut pembahasan krusial Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu.

        Baca Juga: Soal Polemik Ijazah Gibran, Tokoh Intelijen ke Prabowo: Jangan Takut, Purnawirawan di Belakang Anda

        Hendri menyoroti dinamika wacana kenaikan ambang batas pencalonan atau parliamentary threshold menjadi 7 hingga 8 persen. Wacana ini jelas menjadi ancaman mematikan bagi partai sang politikus yang dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Hal tersebut lantaran partai tersebut masih terseok-seok menembus angka 4 persen.

        "Mungkin dia bertanya-tanya, kok saya nggak diajak ngomong, ya? Kemarin saya yang ikut bantu memenangkan Pak Prabowo. Bahkan saya ikut sibuk, kenapa saya nggak diajak? Dan itu cukup menekan dirinya, threshold itu," kata Hendri Satrio dikutip Rabu (28/10/2026).

        Hendri mengibaratkan pengucilan politik tersebut layaknya mantan presiden itu yang sengaja tidak dimasukkan ke dalam grup whatsApp elite kekuasaan yang baru.

        "Kok gue kayak dipinggirin, seperti ada grup WhatsApp lain yang gue nggak ada. Kira-kira Pak Jokowi bilang begitu," tuturnya.

        Perasaan terbuang inilah yang memicu politikus itu melontarkan retorika perlawanan yang sangat tajam dengan kalimat ikonis, “kali ini saya akan lawan”.

        Jokowi, melalui penegasan bahwa dirinya tidak takut dengan wacana ambang batas 7-8 persen, sejatinya sedang mengirimkan sinyal bahaya kepada partai-partai mapan di Senayan.

        Baca Juga: Anggaran Bakom Prabowo Meroket 7.600%, PDIP: Rakyat Disuruh Berhemat, Tapi Jika Urusan Pencitraan...

        Ia ingin membuktikan bahwa partai anaknya kini bukan lagi sekadar partai gurem, melainkan entitas politik yang disokong penuh oleh kekuatan figur seorang mantan kepala negara yang siap melawan balik dominasi koalisi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: