Mahfud MD Apresiasi Keputusan Dua Putra Gus Irfan Mundur dari Jabatan Tenaga Ahli
Kredit Foto: Istimewa
Dua putra Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, yakni Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, resmi mengundurkan diri dari jabatan tenaga ahli di Kementerian Haji dan Umrah. Keputusan tersebut mendapat tanggapan dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD.
Melalui unggahan di akun X pada Rabu (28/10/2026), Mahfud mengapresiasi keputusan kedua putra Gus Irfan. Menurutnya, pengunduran diri tersebut merupakan langkah yang mengedepankan etika sekaligus mencegah munculnya persepsi nepotisme di lingkungan pemerintahan.
“Ini langkah yang bagus, penuh etika,” kata Mahfud MD.
Ia menjelaskan bahwa pengangkatan tenaga ahli pada awal pembentukan lembaga dapat didasarkan pada kebutuhan operasional. Namun, ketika kondisi kelembagaan sudah berjalan normal, pengunduran diri dapat menjadi langkah untuk menghindari anggapan bahwa jabatan diberikan karena hubungan keluarga.
“Meski dulu diangkat karena sangat dibutuhkan berhubung lembaga dan kantor baru, tetapi saat keadaan lembaga dan kantor sudah normal, yang bersangkutan mundur untuk menghindari kesan nepotisme,” tandasnya.
Baca Juga: Usai Bertemu Negara Pakta Makkah, Mojtaba Khamenei Tegaskan Syarat Perdamaian
Sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa pimpinan kementerian telah menerima pengunduran diri Barbarossa dan Gibran pada Senin (26/10/2026). Keputusan itu diambil setelah penunjukan keduanya sebagai tenaga ahli menuai kritik dan perdebatan di tengah masyarakat.
Dahnil menyebut pengunduran diri tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga integritas kementerian. Ia menegaskan bahwa pimpinan berkomitmen memastikan penyelenggaraan pemerintahan terbebas dari praktik yang bertentangan dengan etika.
“Itu juga untuk menjawab komitmen kami di Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga, memastikan integritas tetap harus terjaga,” ujar Dahnil dalam pemberitaan sebelumnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keterlibatan kedua putra Gus Irfan bermula ketika Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) dibentuk pada akhir Oktober 2024. Saat itu, lembaga tersebut masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan membutuhkan bantuan untuk menjalankan pekerjaan pada masa awal pembentukannya.
Dahnil mengatakan bahwa pada tahap awal, dirinya dan Gus Irfan menjadi dua orang yang menjalankan tugas pimpinan lembaga tersebut. Karena keterbatasan tenaga, sejumlah pihak kemudian membantu secara sukarela, termasuk kedua putra Gus Irfan.
“Akhirnya salah duanya itu adalah anaknya Pak Menteri ikut membantu sejak awal, karena saya juga enggak ada yang membantu. Karena Badan Penyelenggara Haji itu hanya dua orang, yaitu Pak Menteri dan saya. Waktu itu mereka enggak bergaji,” lanjut Dahnil.
Sementara itu, Gus Irfan sebelumnya menjelaskan bahwa anak-anaknya bersama sejumlah santri turut membantu proses pembentukan lembaga selama sekitar tiga hingga empat bulan secara sukarela. Setelah kelembagaan berkembang menjadi Kementerian Haji dan Umrah, sejumlah orang kemudian diangkat menjadi tenaga ahli berdasarkan pertimbangan kompetensi dan integritas.
Mundurnya Barbarossa dan Gibran membuat dua posisi tenaga ahli tersebut kosong. Pengisian jabatan selanjutnya akan menjadi kewenangan Menteri Haji dan Umrah sesuai kebutuhan serta kebijakan kementerian.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti