Kredit Foto: Istimewa
Pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan alasan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai nyaris tidak memiliki kawan yang cukup kuat di partai politik setelah lengser dari jabatannya.
Menurut Adi, hingga kini para ketua umum partai politik terkesan menjaga jarak dari Jokowi. Pasalnya, mereka dinilai tidak terlihat mengunjungi Jokowi secara terbuka di kediamannya di Solo sejak ia tak lagi menjabat sebagai presiden.
"Per hari ini ketua umum-ketua umum partai itu memang relatif menjaga jarak memang dengan Pak Jokowi," ujar Adi dalam kanal YouTube tvOneNews, dikutip Rabu (28/10).
"Kan nyaris kita tidak pernah menyaksikan secara terbuka ketua umum-ketua umum partai ini kan datang ke ratapan tembok Solo misalnya kan, enggak ada itu," lanjutnya.
Adi menjelaskan, kondisi tersebut berbeda ketika Jokowi masih menjabat sebagai presiden. Saat itu, partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan cenderung mengikuti arahan presiden.
"Kalau dulu iya karena Pak Jokowi itu posisinya sebagai presiden. Logikanya adalah partai-partai koalisional pemerintah itu pasti akan tegak lurus kepada presidennya," ujarnya.
Menurut Adi, kondisi tersebut mencerminkan buruknya budaya politik di Indonesia. Ia menilai, ada kecenderungan bahwa ketika seseorang tidak lagi menjabat sebagai pejabat publik, terlebih setelah tidak lagi menjadi presiden, kawan-kawan lamanya mulai menjauh dan beralih mendekati pihak yang kini memegang kekuasaan.
"Inilah hancurnya bagaimana budaya politik di negara kita. ada kecenderungan kalau sudah tak lagi jadi pejabat publik apalagi tak lagi jadi presiden, kawan-kawan lama itu sudah hengkang dan angkat kaki dan tentu sudah punya partner yang baru yaitu adalah presiden yang saat ini sedang berkuasa," kata Adi
Baca Juga: Bukan AHY atau Puan, Roy Suryo Punya Skenario Lain Jika Gibran Tak Lagi Jadi Wapres
Ia menambahkan, tidak mengherankan jika setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Jokowi dinilai nyaris tidak memiliki kawan yang cukup kuat di partai politik untuk diandalkan.
Bagi Adi, kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan powerless atau melemahnya kekuatan politik. Menurutnya, Jokowi dinilai tidak lagi memiliki kemampuan yang sama untuk membangun komunikasi dan menjaga kedekatan politik secara intens dengan para ketua umum partai politik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: