Penanganan Adiksi Tak Hanya Soal Berhenti Total, Ini Pentingnya Pendekatan Harm Reduction
Kredit Foto: Unsplash/Possessed Photography
Penanganan ketergantungan atau adiksi masih menghadapi tantangan dalam memastikan setiap individu mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kondisi dan kesiapan mereka untuk pulih. Salah satu tantangannya adalah pendekatan yang cenderung mengukur keberhasilan pemulihan berdasarkan satu indikator, yakni abstinensi atau berhenti sepenuhnya dari penggunaan zat maupun perilaku yang menyebabkan ketergantungan.
Hal ini menjadi tantangan sebab proses pemulihan tidak selalu berlangsung secara linear. Ketergantungan, gejala putus zat, kondisi psikologis, keterbatasan layanan kesehatan hingga faktor lingkungan dapat menjadi hambatan bagi seseorang dalam pemulihan adiksi. Ketika berhenti menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, individu yang belum berhasil berhenti berisiko kehilangan motivasi, mudah kembali pada kebiasaan lama, atau bahkan berhenti berusaha sama sekali.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RSU Jati Husada Karanganyar, Zulhilmi Bramantyo Mardiawan atau yang akrab disapa Itok, mengatakan bahwa kondisi tersebut menuntut pendekatan yang lebih fleksibel menyesuaikan pada kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.
“Dalam praktik klinis, tidak semua individu yang mengalami adiksi berada pada tahap yang sama dalam proses pemulihan. Oleh karena itu, harm reduction dapat menjadi salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan. Pendekatan ini berfokus pada upaya mengurangi dampak negatif secara fisik, sosial, maupun ekonomi akibat ketergantungan, terutama ketika individu tersebut belum mampu atau belum bersedia berhenti sepenuhnya,” ungkap dr. Itok dalam sesi lokakarya Hot Topics Around Harm Reduction of Addiction in Asia and Other Countries pada kongres internasional Asia-Pacific Society of Harm Reduction and Addiction (ASHRA) 2026 di kutip, Rabu (28/10/2026).
Ia menekankan kemajuan yang dicapai individu dalam mengurangi risiko dan memperbaiki kualitas hidup juga perlu dihargai sebagai keberhasilan dalam proses pemulihan tanpa mengesampingkan tujuan jangka panjang.
“Pertanyaan bagi kita sebagai psikiater dan tenaga kesehatan bukanlah apakah seseorang sudah berhenti total, melainkan apakah kondisinya hari ini lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Menurut dr. Itok, harm reduction tidak diposisikan sebagai pengganti abstinensi. Keduanya dapat saling melengkapi dalam strategi penanganan terpadu, dengan mempertimbangkan kondisi klinis, tingkat risiko, dan kesiapan setiap individu. Terlebih mengingat bahwa konsep harm reduction sebetulnya banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti penggunaan helm dan sabuk pengaman saat berkendara, pilihan pemanis rendah kalori, hingga pemakaian masker ketika sedang tidak fit, dan sebagainya.
Dalam konteks penanganan ketergantungan, salah satu contoh penerapannya adalah Tobacco Harm Reduction (THR), yaitu pendekatan pengurangan risiko terkait kebiasaan merokok. dr. Itok mengulas THR sebagai pendekatan yang dapat dipertimbangkan bagi perokok dewasa yang belum berhasil atau belum bersedia berhenti merokok sepenuhnya. Ia mengidentifikasi dua kondisi yang perlu dibedakan dalam praktik klinis.
Pertama, perokok yang ingin berhenti, tetapi menghadapi hambatan klinis seperti ketergantungan nikotin, gejala putus nikotin, adanya kondisi psikiatris ataupun gangguan psikologis penyerta, juga riwayat upaya berhenti yang berulang kali gagal. Kedua, perokok yang belum bersedia berhenti dari kebiasaannya.
“Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan untuk berhenti tidak selalu sama pada setiap individu. Oleh sebab itu, pendekatan yang hanya menawarkan pilihan berhenti sepenuhnya (all or nothing approach) berisiko tidak menjawab kebutuhan sebagian perokok yang masih menghadapi hambatan untuk mencapai abstinensi,” kata dr. Itok.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pendekatan dalam THR adalah mendorong perokok dewasa yang belum berhasil atau belum bersedia berhenti merokok untuk beralih dari rokok ke produk tembakau alternatif. Pendekatan ini didasarkan pada bukti ilmiah bahwa sebagian besar risiko kesehatan akibat merokok berasal dari proses pembakaran tembakau yang menghasilkan asap mengandung berbagai zat berbahaya. Karena itu, beralih ke produk tembakau alternatif yang tidak melibatkan proses pembakaran dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan terhadap zat-zat berbahaya tersebut.
“Pertimbangan tersebut berkaitan dengan proses pembakaran tembakau yang menghasilkan berbagai zat berbahaya dalam asap rokok. Menghilangkan proses pembakaran menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam upaya mengurangi paparan bahaya rokok,” jelas dr. Itok.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa harm reduction bukan berarti membiarkan perilaku berisiko tanpa penanganan. Pendekatan ini justru mendorong penetapan sasaran yang realistis, terukur, dan berorientasi pada perbaikan kondisi kesehatan, sembari mempertahankan tujuan pemulihan jangka panjang.
Baca Juga: Menperin Kejar Produsen Rokok Ilegal, Penindakan Saja Tak Cukup
Baca Juga: Larangan Perisa Tembakau Dinilai Berisiko Dongkrak Rokok Ilegal dan Ancam Target Ekonomi 8 Persen
Lebih lanjut, dr. Itok menjelaskan bahwa prinsip harm reduction juga dapat digunakan dalam konteks penanganan adiksi yang lebih luas seperti penanganan perilaku adiksi seperti gim (online gaming). Dalam konteks tersebut, pendekatan ini berfokus pada pengurangan dampak buruk dan perbaikan kesehatan secara bertahap, dengan tetap menempatkan berhenti sepenuhnya sebagai tujuan jangka panjang.
“Pada akhirnya, penanganan adiksi memerlukan pendekatan yang berbasis bukti, proporsional terhadap tingkat risiko, dan berpusat pada kebutuhan individu. Bagi kawasan Asia Pasifik yang memiliki keragaman kondisi sosial dan sistem layanan kesehatan, pendekatan yang fleksibel, tetapi tetap terukur dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan strategi penanganan adiksi,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: