Kredit Foto: Ist
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya memperkuat kemampuan memprediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tiga sampai enam bulan ke depan. Riset ini diarahkan untuk membantu mengantisipasi potensi kebakaran sebelum meluas.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan salah satu upaya yang dikembangkan adalah riset mengenai model perambatan api. Melalui penelitian tersebut, BRIN berharap dapat meningkatkan kemampuan memperkirakan perkembangan kebakaran dan membantu langkah pencegahan karhutla.
“Sehingga kita punya kemampuan apa yang akan terjadi 3 bulan, 6 bulan di kemudian hari terkait dengan karhutla ini. Jadi kemampuan kita memprediksi ini saya kira sangat penting sekali,” ujar Arif setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/10).
Arif menyampaikan penguatan riset prediksi karhutla tersebut sebagai salah satu agenda yang dibahas setelah pertemuannya dengan Prabowo. Upaya ini menempatkan kemampuan prediksi sebagai bagian penting dalam mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Selain membahas karhutla, Arif mengatakan Prabowo juga meminta BRIN mempercepat riset vaksin malaria. Ia berharap dukungan Presiden dapat membuat proses riset tersebut selesai lebih cepat tiga tahun dari target sebelumnya.
Baca Juga: Prabowo Minta Riset Vaksin Malaria Dipercepat, BRIN Targetkan 3 Tahun Lebih Awal
“Pak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden tentang terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat eh 3 tahun lebih cepat dari seharusnya, karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” kata Arif.
Dalam pertemuan yang sama, Arif turut menyampaikan potensi pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif.
Ia menyebut limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong sawit berpotensi menghasilkan listrik hingga sekitar 3,9 gigawatt apabila dikonversi menjadi energi.
Namun, untuk riset karhutla, Arif menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan memperkirakan kondisi yang berpotensi terjadi pada bulan-bulan mendatang.
Target prediksi tiga hingga enam bulan tersebut merupakan arah pengembangan riset, bukan jaminan bahwa seluruh kejadian karhutla dapat diprediksi secara pasti.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama