Kredit Foto: Istimewa
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode Oktober 2026 yang menempatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di atas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi calon presiden.
Jokowi mengingatkan bahwa angka elektabilitas tidak bersifat permanen. Menurutnya, survei hanya merekam pandangan masyarakat pada waktu tertentu sehingga hasilnya tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran tetap kekuatan politik seorang tokoh.
“Survei-survei itu kan potret pendapat masyarakat pada saat tertentu. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan, karena setiap saat itu bisa berbeda-beda,” kata Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026).
Ia juga mengaku belum mempelajari secara terperinci hasil survei SMRC tersebut. Jokowi menyarankan agar publik membaca temuan survei secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.
“Ya coba dilihat di surveinya itu secara detail. Saya belum melihat,” ujarnya.
Saat ditanya apakah kasus-kasus yang belakangan menjadi perhatian publik dapat memengaruhi elektabilitas kandidat, Jokowi tidak menunjuk satu peristiwa tertentu sebagai penyebab. Ia menilai posisi politik seseorang dapat berubah karena berbagai faktor.
Baca Juga: Golkar Masuk Tiga Besar Survei Elektabilitas, AMPG Soroti Kerja Kader
“Ya, saya kira banyak hal. Banyak hal yang bisa menaikkan atau menurunkan elektabilitas dari siapa pun,” katanya.
Pernyataan Jokowi tersebut tidak secara langsung membenarkan ataupun membantah hasil survei SMRC. Ia lebih menekankan bahwa angka elektabilitas perlu dibaca sesuai konteks dan waktu pengumpulan data.
Hasil survei dapat menjadi gambaran posisi relatif para tokoh pada periode penelitian, tetapi bukan kepastian mengenai hasil pemilu mendatang. Dinamika politik dan perubahan penilaian masyarakat dapat membuat angka tersebut bergerak seiring waktu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy