Kredit Foto: BPMI
Roy Suryo menanggapi kritik bahwa surat terbuka para guru besar soal Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hanya mewakili sebagian kecil profesor di Indonesia.
Ia menilai jumlah itu tidak mengurangi bobotnya. Pernyataan ini disampaikan dalam program Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang tayang 28 Oktober 2026.
Roy menyebut surat dari para guru besar sebagai bentuk desakan yang lebih halus dibandingkan gerakan lain. Ia menggambarkan isi surat itu berkaitan dengan nilai-nilai kenegaraan.
“Ketika kita dengar, nah 150 profesor dan guru besar yang kemudian menjaga marwah konstitusi, etika, kemudian juga bernegara dan legitimasi kepemimpinan nasional ini membuat surat terbuka,” ujarnya.
Roy mengakui ada pihak yang menilai angka tersebut kecil dibandingkan seluruh profesor di Indonesia.
“Meskipun ada yang bilang gini, itu 150 dari 13 ribuan profesor di Indonesia katanya,” kata Roy. Ia menolak anggapan itu.
“Kalau menurut saya justru itu cream de la cream,” ujarnya.
Ia juga menyebut tidak semua profesor akan bersikap sama. “Enggak mungkin setiap profesor itu juga atau guru besar itu berpikiran maju semua atau progresif semua,” kata Roy.
Ia menambahkan perumpamaan lain, “Sama aja enggak mungkin setiap orang juga jadi presiden.”
Baca Juga: Belajar dari Bung Hatta, Roy Suryo Lempar Wacana Indonesia Tanpa Wakil Presiden hingga 2029
Roy menyoroti sejumlah tokoh yang menurutnya ada di antara para penandatangan. “Setidaknya dari nama-nama profesor itu, mulai dari Prof Din Syamsudin dengan sampai dengan Pak Said Aqil,” katanya.
Pada penutup obrolan, Roy mengaitkan surat tersebut dengan harapan soal arah bangsa. “Kita menginginkan Indonesia kembali bermartabat dan berjuang seperti menjaga marwah martabat ini dari 150 profesor dan guru besar,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: