Adik Prabowo: Bohong Kalau Ada yang Bilang Indonesia Gelap karena Dibebani Utang
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Narasi Indonesia sedang berada di ambang jurang krisis akibat tumpukan utang negara memantik reaksi keras dari Istana. Mereka menegakan bahwa narasi tersebut adalah hoaks besar.
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo secara frontal menepis tudingan miring yang banyak berseliweran di media sosial tersebut. Ia menegaskan bahwa isu yang menyebut masa depan ekonomi negara suram adalah omong kosong yang tidak berlandaskan data.
Baca Juga: Adiknya Prabowo Panik Lihat Nasib IHSG: Kalau Modal Asing Kabur, Rupiah Bisa Tembus Rp22.000
Adik Kandung Presiden Prabowo Subianto ini meminta publik untuk tidak mudah termakan propaganda ketakutan (fear-mongering) yang sengaja diembuskan untuk merusak kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
"Banyak yang persoalkan utang negara. Indonesia gelap karena kita dibebani utang, ternyata itu bohong. Enggak ini, maaf ya, di sosial media banyak bohong," tegas Hashim dikutip Jumat (30/10/2026).
Hashim, alih-alih berada dalam kondisi "gelap", justru membeberkan bahwa negara saat ini tengah menuai berbagai pencapaian makroekonomi dan ketahanan nasional yang luar biasa.
Ia mengingatkan publik mengenai kesuksesan pemerintahan saat ini dalam merealisasikan target swasembada pangan jauh lebih cepat dari jadwal yang diproyeksikan, yang otomatis menekan beban impor dan menghemat devisa negara.
"Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia sudah swasembada pangan. Betul? Sudah tahu semua? Tiga tahun lebih cepat dari target. Ini suatu pencapaian prestasi yang banyak orang tidak tahu," jelas Hashim.
Prestasinya di sektor pangan dan stabilnya rasio utang ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa klaim kebangkrutan yang dinarasikan oleh pihak-pihak tertentu di media sosial hanyalah pepesan kosong.
Adapun Indonesia sebelumnya tercatat memiliki utang luar negeri yang telah mencapai US$459,3 miliar atau setara Rp8.120–Rp8.300 triliun di Agustus 2026.
Data yang dihimpun dalam bahan laporan menunjukkan utang luar negeri mencapai US$459,3 miliar di Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, utang pemerintah tercatat US$220,9 miliar, meningkat 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, utang swasta mencapai US$195,6 miliar, turun 0,8 persen secara tahunan.
Baca Juga: Lagi Panas Indonesia-Singapura, Pesan Menohok Anak Buah Prabowo: Kita Tidak Dapat Memilih Tetangga
Rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di level 30,9 persen. Struktur utang yang didominasi pinjaman jangka panjang menjadi salah satu alasan posisi tersebut dinilai masih terkendali.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: