Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah adanya pesan tersirat mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pertemuan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Prabowo Subianto.
Hasto mengatakan, pertemuan kedua tokoh tersebut membahas sejumlah isu strategis kebangsaan, mulai dari geopolitik hingga kebijakan untuk mengatasi persoalan masyarakat.
Hal itu disampaikan Hasto dalam diskusi di kanal YouTube Sinkos Indonesia bersama Faizal Assegaf, Jumat (30/10/2026).
Dalam diskusi tersebut, Faizal menyinggung pernyataan Hasto yang menyebut Gibran sebagai beban. Ia kemudian bertanya apakah pandangan tersebut juga disampaikan Megawati kepada Prabowo saat keduanya bertemu.
Faizal juga menanyakan kemungkinan Megawati memberikan sindiran atau sinyal agar posisi Gibran sebagai wakil presiden dievaluasi.
Hasto membantah adanya pembicaraan semacam itu.
“Tidak. Kalau Ibu Mega bertemu dengan Presiden Prabowo, yang dibahas hal-hal strategik tentang kebangsaan, geopolitik, kebijakan untuk mengatasi berbagai persoalan rakyat, dan supremasi hukum,” ujarnya.
Ketika Faizal kembali menanyakan kemungkinan adanya sindiran, Hasto menegaskan bahwa pembicaraan Megawati dan Prabowo tidak mengarah pada persoalan Gibran. Menurutnya, keduanya membahas arah bangsa dan negara ke depan, termasuk dinamika geopolitik.
Megawati dan Prabowo sebelumnya bertemu di Istana Merdeka pada Kamis (19/3/2026). Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu turut dihadiri Ketua DPR RI Puan Maharani.
Saat itu, Hasto menyampaikan bahwa Megawati menggambarkan pertemuan tersebut sebagai pertemuan teman lama yang berlangsung akrab. Ia juga menyebut keduanya membahas berbagai persoalan bangsa, termasuk dinamika geopolitik global.
Keterangan tersebut sejalan dengan penjelasan Hasto dalam diskusi Sinkos Indonesia.
Kedekatan Megawati dan Prabowo juga terlihat saat keduanya menghadiri peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, pada 1 Juni 2026.
Dalam sesi tanya jawab, Faizal juga menyinggung kemesraan yang terlihat antara Prabowo dan Megawati. Ia kemudian membandingkannya dengan hubungan Megawati dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Hasto menjawab bahwa seorang pemimpin seharusnya dinilai dari keputusan politik yang diambil, bukan hanya dari penampilan atau kemesraan yang terlihat di hadapan publik.
Ia menyebut Megawati cukup sering bertemu dengan Jusuf Kalla. Bahkan, Hasto mengaku pernah ditugaskan untuk bertemu Kalla beberapa waktu lalu.
Menurutnya, hubungan Megawati dan Kalla juga terjalin baik ketika Kalla menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada masa pemerintahan Megawati.
Faizal dalam kesempatan itu menyebut Prabowo dan Megawati memiliki hubungan historis yang panjang. Hasto menilai hal terpenting dari seorang pemimpin adalah konsistensi dalam mengambil keputusan.
Konsistensi tersebut, menurutnya, mencerminkan ideologi, karakter kepemimpinan, serta komitmen terhadap rakyat, bangsa, dan negara.
Hasto juga menjelaskan posisi PDIP yang memilih berada di luar pemerintahan sebagai penyeimbang. Meski demikian, partainya tetap mendukung kebijakan atau keputusan pemerintah yang dinilai sesuai dengan prinsip dan kewenangan konstitusional.
Ia mencontohkan dukungan Fraksi PDIP terhadap penetapan Jenderal Suyudi sebagai Kapolri. Menurut Hasto, pengangkatan Kapolri dan Panglima TNI merupakan hak prerogatif Presiden sehingga tidak dapat ditentukan melalui pemungutan suara di DPR.
Baca Juga: Soal Sinyal Prabowo pada Polemik Wapres Gibran, Hasto Ungkap Sikap PDIP
Di sisi lain, PDIP tetap menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan sejumlah kebijakan pemerintah. Hasto menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan penanganan kebakaran hutan, serta potensi sentralisasi dalam program Koperasi Desa Merah Putih.
Terkait persoalan Gibran, Hasto mengatakan PDIP menginginkan stabilitas politik agar pemerintah dapat berkonsentrasi menangani persoalan ekonomi.
Ia juga meminta publik tidak berspekulasi mengenai sikap Prabowo terhadap wacana pemakzulan Gibran.
“Dalam politik kita enggak boleh dengan duga-duga,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: