Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gandeng 43 Perusahaan AS, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi Manufaktur

        Gandeng 43 Perusahaan AS, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi Manufaktur Kredit Foto: Kementerian perindustrian
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia membuka peluang perluasan investasi Amerika Serikat (AS) di sektor manufaktur, mulai dari semikonduktor, kedirgantaraan, hingga industri farmasi. Pemerintah juga mendorong kerja sama kedua negara menghasilkan transfer teknologi dan memperkuat keterlibatan industri lokal dalam rantai pasok global.

        Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji membahas peluang tersebut bersama delegasi US-ASEAN Business Council (USABC) dalam agenda 2026 Indonesia Business Mission di Jakarta. Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti delapan rekomendasi USABC untuk memperkuat kerja sama industri dan mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen.

        Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengatakan, kemitraan dengan AS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga memperkuat kemampuan industri dalam negeri.

        Menurutnya, kerja sama tersebut perlu mendorong alih teknologi, memperluas keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok internasional, serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia industri.

        Hubungan ekonomi kedua negara menjadi salah satu modal untuk memperluas kolaborasi tersebut. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia-AS mencapai US$43,80 miliar. Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$18,02 miliar, dengan ekspor senilai US$30,95 miliar dan impor US$12,93 miliar.

        Pada periode yang sama, realisasi investasi AS di Indonesia mencapai US$2,97 miliar.

        Delapan sektor kerja sama

        Dalam pertemuan tersebut, pemerintah dan pelaku usaha AS mengidentifikasi delapan bidang yang berpotensi memperkuat industri nasional. Salah satu fokusnya adalah transformasi digital, termasuk pengembangan kecerdasan buatan, otomasi, keamanan siber, dan ekosistem semikonduktor.

        Kemenperin juga membuka peluang penguatan pendidikan vokasi bersama perusahaan teknologi, termasuk melalui pengembangan Apple Skill Center. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi kebutuhan industri berbasis teknologi.

        Di sektor kedirgantaraan, pemerintah mendorong kelanjutan kerja sama dengan Boeing untuk memperbesar keterlibatan pemasok lokal. Saat ini, lebih dari 10 produsen komponen dalam negeri telah mengantongi sertifikasi, dengan lima di antaranya terdaftar sebagai pemasok global Boeing.

        Pengembangan Kertajati Aerospace Park juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas industri kedirgantaraan nasional.

        Sementara itu, di sektor energi, kerja sama diarahkan pada peningkatan penggunaan komponen dalam negeri dalam proyek-proyek besar. Salah satunya melalui proyek Tangguh Ubadari, carbon capture, utilization, and storage (CCUS), serta compression yang melibatkan bp.

        Pemerintah turut membidik penguatan industri kesehatan dan farmasi melalui pengembangan alat kesehatan berstandar global, teknologi medis, serta penerapan sertifikasi yang relevan.

        Adapun di sektor makanan dan minuman, perhatian diberikan pada kepastian pasokan bahan baku dan percepatan penerapan kewajiban sertifikasi halal. Pemerintah juga mendorong manufaktur hijau dengan menargetkan rasio pemanfaatan material sirkular sebesar 15 persen pada 2029 di delapan sektor prioritas, termasuk elektronik, tekstil, plastik, logam, dan baterai kendaraan listrik.

        Kerja sama lainnya mencakup pengembangan material maju bersama Lubrizol, penjajakan ekspansi logistik oleh UPS, pembiayaan manufaktur, serta penyederhanaan perizinan dan reformasi kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

        Baca Juga: Gubernur BI Blak-blakan, Rupiah Punya PR Besar di Sektor Ekspor dan Investasi

        Baca Juga: Pemerintah Jajaki Kemitraan Investasi dengan Azerbaijan, dari Mineral-Tekstil

        Peluang investasi masih terbuka

        Potensi pengembangan kerja sama tersebut juga tercermin dalam laporan BISA 2026 yang diterbitkan USABC. Laporan itu mencatat 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS di Indonesia selama periode 2020-2026.

        Catatan tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang bagi perusahaan AS untuk memperluas kegiatan usaha di Indonesia, terutama pada sektor manufaktur berteknologi tinggi, kimia, farmasi, dan elektronik.

        Kemenperin berharap kerja sama yang dibahas bersama USABC dapat segera diwujudkan melalui investasi baru, ekspansi fasilitas produksi, transfer teknologi, dan penyerapan tenaga kerja lokal.

        Setia mengatakan, kolaborasi kedua negara diharapkan dapat memperkuat integrasi industri Indonesia ke dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: