Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual, Investor Perlu Waspadai Level Psikologis 5.000 Pekan Ini

        IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual, Investor Perlu Waspadai Level Psikologis 5.000 Pekan Ini Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini. Secara teknikal, indeks masih berada dalam tren bearish setelah ditutup di bawah indikator Moving Average 3 (MA3), dengan koreksi mingguan mencapai 7,03%.

        Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan momentum jual masih cukup dominan. Sementara itu, sinyal pemulihan tren jangka pendek juga belum terkonfirmasi.

        "Dalam skenario terbaik (best case), IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada rentang 5.000–5.200 sepanjang pekan ini, dengan catatan indeks mampu mempertahankan penutupan di atas level psikologis 5.000," kata dia dalam risetnya, senin (2/11/2026).

        Namun, investor perlu mewaspadai potensi pelemahan lanjutan apabila tekanan jual kembali meningkat. Jika IHSG ditutup menembus ke bawah 5.000, indeks berisiko menguji area 4.900–5.000.

        Bahkan, dalam skenario terburuk (worst case), tekanan jual yang berlanjut dapat membawa IHSG menuju area koreksi berikutnya di kisaran 4.763–4.845.

        Sejumlah Agenda Ekonomi Jadi Penentu Arah IHSG

        Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG pekan ini juga akan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri.

        Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis data Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 (3Q26), cadangan devisa, hingga indeks harga rumah.

        Berbagai data tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi dan prospek perekonomian Indonesia.

        Sementara dari eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat (midterm election) yang berlangsung pada 3 November 2026. Hasil pemilu tersebut menjadi salah satu sentimen yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan dan dinamika pasar keuangan global.

        Di tengah ketidakpastian pasar, investor perlu memperhatikan sejumlah level teknikal sebagai acuan dalam menentukan strategi investasi.

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Technical Rebound, tetapi Tekanan Asing dan Geopolitik Masih Membayangi

        Baca Juga: IHSG Ambruk 7,03% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp721 Triliun

        Secara teknikal, area support IHSG berada di rentang 4.915–5.012. Sementara itu, area resistance berada pada kisaran 5.328–5.460.

        Kemampuan IHSG mempertahankan level 5.000 menjadi salah satu faktor krusial untuk menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.

        "Selama mampu bertahan di atas 5.000, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi. Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," imbuhnya.

        Dengan kondisi pasar yang masih rentan terhadap tekanan jual, investor disarankan tetap mencermati perkembangan sentimen domestik dan global serta memperhatikan level teknikal IHSG.

        Strategi investasi yang disiplin, selektif dalam memilih saham, dan penerapan manajemen risiko menjadi penting untuk menghadapi volatilitas pasar sepanjang pekan ini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: