Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Dibuka Melemah, Sempat Anjlok 1,46% ke Level 5.039,54 pada Awal Perdagangan

        IHSG Dibuka Melemah, Sempat Anjlok 1,46% ke Level 5.039,54 pada Awal Perdagangan Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal pekan di zona merah. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 5.039,54, turun dari posisi penutupan sebelumnya di 5.057,05.

        Tekanan jual langsung mewarnai perdagangan. Bahkan, pada pukul 09.03 WIB, IHSG sempat merosot hingga menyentuh level 4.981,52. Indeks tercatat terkoreksi 74,04 poin atau 1,46% ke posisi 4.983,01.

        Namun, pelemahan tersebut mulai berkurang menjelang pukul 09.05 WIB. IHSG berhasil naik ke level 5.015,79, meski masih melemah 41,26 poin atau 0,82%.

        Sementara itu, aktivitas perdagangan hingga pukul 09.05 WIB mencatat volume transaksi sebanyak 30,19 juta lot dengan nilai mencapai Rp941,99 miliar.

        IHSG Masih Tertekan di Sepanjang Pekan Ini

        Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini. Secara teknikal, indeks masih berada dalam tren bearish setelah ditutup di bawah indikator Moving Average 3 (MA3), dengan koreksi mingguan mencapai 7,03%.

        Dia mengaku, kondisi tersebut menunjukkan momentum jual masih cukup dominan. Sementara itu, sinyal pemulihan tren jangka pendek juga belum terkonfirmasi.

        "Dalam skenario terbaik (best case), IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada rentang 5.000–5.200 sepanjang pekan ini, dengan catatan indeks mampu mempertahankan penutupan di atas level psikologis 5.000," kata dia dalam risetnya, senin (2/11/2026).

        Namun, investor perlu mewaspadai potensi pelemahan lanjutan apabila tekanan jual kembali meningkat. Jika IHSG ditutup menembus ke bawah 5.000, indeks berisiko menguji area 4.900–5.000.

        Bahkan, dalam skenario terburuk (worst case), tekanan jual yang berlanjut dapat membawa IHSG menuju area koreksi berikutnya di kisaran 4.763–4.845.

        Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG pekan ini juga akan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri.

        Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis data Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 (3Q26), cadangan devisa, hingga indeks harga rumah.

        Berbagai data tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi dan prospek perekonomian Indonesia.

        Baca Juga: IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual, Investor Perlu Waspadai Level Psikologis 5.000 Pekan Ini

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Technical Rebound, tetapi Tekanan Asing dan Geopolitik Masih Membayangi

        Sementara dari eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat (midterm election) yang berlangsung pada 3 November 2026. Hasil pemilu tersebut menjadi salah satu sentimen yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan dan dinamika pasar keuangan global.

        Di tengah ketidakpastian pasar, investor perlu memperhatikan sejumlah level teknikal sebagai acuan dalam menentukan strategi investasi.

        Secara teknikal, area support IHSG berada di rentang 4.915–5.012. Sementara itu, area resistance berada pada kisaran 5.328–5.460.

        Kemampuan IHSG mempertahankan level 5.000 menjadi salah satu faktor krusial untuk menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.

        "Selama mampu bertahan di atas 5.000, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi. Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," ungkap dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: